Kematian Jenderal Iran, Indonesia & Malaysia Dukung Teheran atau Saudi?

Qassem Soleimani, Jenderal Iran - edition.cnn.comQassem Soleimani, Jenderal Iran - edition.cnn.com

KUALA LUMPUR/JAKARTA – Kematian Qassem Soleimani, komandan militer Iran, oleh serangan AS pada pekan lalu tidak hanya mengguncang keuangan, tetapi juga hubungan Iran. Negara-negara mitra di , seperti Malaysia dan Indonesia, dihadapkan pada pilihan apakah memilih Teheran atau Arab Saudi, ketika AS mengawasi saksama siapa negara mayoritas Muslim di luar Timur Tengah yang mungkin akan mendukung Iran untuk melancarkan balas dendam.

“Iran menggunakan serangan itu untuk menggalang dukungan di antara komunitas Muslim internasional, yang meliputi Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, dan Malaysia, keduanya dianggap moderat oleh Barat,” ujar James Chin, direktur Asia Institute di University of Tasmania, dilansir Nikkei. “Bagaimana sisi dan populasi mereka akan menunjukkan seberapa baik upaya AS untuk mengisolasi Iran bekerja sejak kematian Soleimani.”

Seperti diketahui, pada tingkat resmi, Iran, Malaysia, dan Indonesia diikat bersama sebagai bagian dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI), meskipun ada ketegangan. Muslim di Asia Tenggara sebagian besar merupakan penganut Sunni, sedangkan Iran adalah Syiah. Ada sekitar 230 juta Muslim di Indonesia, yang kedelapan dari total dunia, dan jumlah Syiah kurang dari 1 juta orang, termasuk orang asing yang tinggal di Indonesia.

Otoritas Islam di Malaysia dan Indonesia secara aktif menekan gerakan Syiah dan tidak mengakui ajaran Syiah, bahkan Malaysia menangkap penganut Syiah. Meski demikian, jumlah pengikut Syiah di kedua negara ini telah meningkat selama dua dekade terakhir, sebagian karena banyaknya jumlah orang Iran yang datang dan tinggal.

“Banyak orang Iran merasa mudah mendapatkan izin tinggal, seringkali dengan mendaftar sebagai mahasiswa atau mendirikan bisnis. Karena sanksi AS, banyak Iran pergi ke kedua negara untuk liburan dan memotong sanksi,” sambung Chin. “Ada juga ribuan profesional Iran yang bekerja di Indonesia dan Malaysia. Banyak orang Iran yang kaya, sebenarnya, telah menggunakan Kuala Lumpur sebagai pusat dan Jakarta untuk lingkungan sosial liberal mereka.”

Pemerintah Malaysia dan Indonesia sendiri cenderung waspada ketika terlalu dekat dengan Iran karena mereka selalu berusaha untuk menjaga hubungan dengan Arab Saudi. Pasalnya, Saudi tidak hanya mengendalikan kuota ibadah haji ke Mekah, tetapi juga dipandang sebagai sumber . Selain itu, ada ribuan warga Malaysia dan Indonesia yang belajar di kampus-kampus Arab Saudi dan banyak masjid dan LSM Islam di kedua negara yang mengandalkan dana dari Saudi.

Pada tahun 2017 lalu, Indonesia sempat menerima kedatangan Raja Arab Saudi dalam kunjungan pertamanya dan menerima investasi 7 miliar AS. Ada juga pendapatan dalam uang, ketika sekitar setengah juta orang Indonesia bekerja di Arab Saudi, sebagian besar sebagai pembantu rumah tangga, dan mereka mengirim kembali 3,9 miliar dolar AS pada tahun 2018.

“Namun, kedekatan Malaysia dengan Arab Saudi telah berubah sejak jatuhnya Perdana Menteri Najib Razak pada tahun 2018,” tutur Chin. “Pengganti Najib, Mahathir Mohamad, membuat kesal orang-orang Saudi ketika mengadakan pertemuan, mengundang para pemimpin Indonesia, Pakistan, Turki, Iran, dan Qatar sebagai pembicara utama. Saudi melihatnya sebagai tantangan bagi peran utama mereka dalam OKI dan memberi tekanan luar biasa pada Pakistan dan Indonesia untuk mundur.”

Menurut Chin, pada tingkat resmi, Malaysia dan Indonesia akan cenderung bersikap netral menghadapi kasus pembunuhan Soleimani. Mereka tidak akan mendukung AS atau Iran dan akan tetap berbicara diplomatik tentang pentingnya perdamaian dan pengurangan eskalasi. Saudi juga akan bekerja di belakang layar untuk memastikan bahwa kedua negara mengambil sikap netral.

“Namun, di antara populasi biasa, saya berpendapat ada dukungan kuat untuk Iran dalam konfrontasinya saat ini dengan AS,” tambah Chin. “Banyak orang Malaysia dan Indonesia yang mengagumi ketangguhan Iran dalam menghadapi sanksi AS dan upayanya untuk membangun bom nuklir. Meskipun mereka mungkin tidak menerima ajaran Syiah, ketika tiba saat memerangi AS, mereka akan mendukung Iran.”

Namun, Chin melanjutkan, ini adalah prospek jangka pendek. Dalam jangka panjang, kecil kemungkinan Iran akan mendapat untung secara politis dari pembunuhan Soleimani. Komunitas Muslim di Asia Tenggara sangat Sunni, dan kesenjangan Sunni-Syiah akan terlalu sulit untuk diatasi. “Hal terbaik yang harus dilakukan Presiden AS, Donald Trump, adalah berhenti mengancam Iran di Twitter. Semakin banyak yang dia lakukan, semakin banyak dukungan dari umat Islam biasa di Asia Tenggara untuk Iran,” pungkas Chin.

Loading...