Kebut Proyek, Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Gunakan Jalur Lama

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi - twitter.com

telah memutuskan bakal menggunakan atau lama (existing) untuk yang menghubungkan Jakarta dengan . Perubahan rencana tersebut dilakukan guna mempercepat proyek karena tidak perlu membangun stasiun anyar. Padahal, sebelumnya dikatakan bahwa proyek yang didukung oleh Jepang ini akan menggunakan jalur baru.

Nikkei melaporkan, pemerintah Indonesia telah menjalin kemitraan dengan Jepang untuk melakukan upgrade jalur rel sepanjang 750 km yang melintasi Pulau Jawa. Proyek yang menghubungkan ibukota Jakarta dengan Surabaya itu akan memotong waktu sekitar 11 jam perjalanan menjadi hanya lima atau enam jam jika pembangunannya rampung.

Namun, kedua belah pihak kemudian berbeda pendapat mengenai bagaimana melanjutkan pembangunan. Rencana awal melibatkan pemindahan jalur kereta api ke jalur yang masih ada untuk mempercepat penyelesaian proyek. Tetapi, pihak Indonesia kemudian ‘menuntut’ pembangunan jalur yang sama sekali baru, dan kereta api nantinya hanya beroperasi dengan tenaga listrik.

Hiroto Izumi, penasihat khusus Perdana Jepang Shinzo Abe, kemudian dikabarkan bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada hari Selasa (5/9) kemarin yang meminta Indonesia untuk memutuskan rencana perkeretaapian dengan cepat. Lalu, pejabat senior Indonesia dilaporkan memutuskan akan menggunakan jalur kereta api yang sudah ada untuk proyek ini.

“Penggunaan jalur existing ini dilakukan agar pembangunan bisa berlangsung cepat karena stasiunnya tidak pindah-pindah,” papar Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. “Kedua, rencana itu akan menyelesaikan 500-800 perlintasan sebidang yang artinya memberikan banyak manfaat kepada banyak kota, agar tidak macet dan membuat daerah lebih aman.”

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, menambahkan bahwa pembangunan perlintasan sebidang akan menyesuaikan daerah yang dilalui. Tetapi, ia memastikan akan menggunakan yang murah, sebagaimana jembatan Antapani di Bandung, Jawa Barat.

“Penggunaan jalur atau rel yang sudah ada dimungkinkan karena jalur tersebut sesungguhnya mampu dilalui kereta dengan kecepatan 150 km per jam, dan dengan demikian bisa digunakan untuk melintas kereta semi-cepat,” jelas Basuki. “Namun, kenapa sekarang hanya 90 km per jam? Karena banyaknya lintasan sebidang yang jumlanya 500-800.”

Loading...