Kasus COVID-19 Terus Naik, Rupiah Malah Berakhir Menguat

pada perdagangan Senin (16/11) sore - www.beritasatu.com

JAKARTA – Rupiah mampu menjaga posisi di teritori positif pada Senin (16/11) sore ketika kasus positif infeksi virus di berbagai belahan dunia dilaporkan terus bertambah, termasuk di negara adidaya, AS. Menurut catatan Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda menguat 60 poin atau 0,42% ke level Rp14.110 per dolar AS

Sementara itu, berdasarkan data yang dirilis pukul 10.00 WIB tadi, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.139 per dolar AS, menguat 83 poin atau 0,53% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.786 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah mata uang Asia juga mampu mengungguli greenback, termasuk rupiah, won Korea Selatan, dan yuan China.

“Rupiah cenderung bergerak menguat, terutama di awal pekan ini, yang didorong oleh kepastian kemenangan ,” ujar Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dilansir dari Bisnis. “Namun, pada dua hari terakhir, penguatan rupiah cenderung terbatas akibat pudarnya euforia kemenangan Biden di serta kenaikan angka kasus COVID-19 di berbagai belahan dunia.”

Dari pasar global, dolar AS harus terkurung dalam kisaran sempit pada hari Senin, karena para pedagang mempertimbangkan dampak ekonomi dari kebangkitan kasus virus corona terhadap prospek vaksin yang berfungsi menyalakan kembali pertumbuhan global. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,179 poin atau 0,19% ke level 92,576 pada pukul 11.12 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, optimisme pasar global melonjak pekan lalu setelah optimisme vaksin, dengan dolar AS naik karena pedagang keluar dari posisi long-yen mereka. Namun, pasar mata uang telah mengubah penghindaran aset risiko menjelang akhir minggu karena infeksi virus corona menyebar lebih luas. Lebih dari 54,01 juta orang telah dilaporkan terinfeksi oleh virus corona baru di seluruh dunia, dengan jumlah kematian melebihi 1,3 juta. Di AS, total kasus virus 11 juta pada hari Minggu (15/11) karena laju pandemi semakin cepat.

“Pergerakan mata uang yang didorong oleh berita vaksin telah terhenti. Tanpa tambahan berita positif tentang vaksin, suku bunga dan saham AS memasuki mode koreksi pada akhir minggu, dan dolar AS jatuh,” kata kepala strategi mata uang di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto. “Ketidakpastian seputar pemilihan telah menurun karena semakin yakin bahwa Joe Biden mendapatkan lebih banyak suara. Ini lebih mudah bagi para pedagang untuk mengambil risiko dengan harapan bahwa pemerintahan berikutnya akan segera mengambil tindakan terhadap virus corona.”

Loading...