Jelang Rilis Notulensi FOMC Meeting, Rupiah Ditutup Terdepresiasi

Jakarta – Mata uang rupanya tak mampu beranjak dari zona merah pada hari ini. Berdasarkan dari Index, di akhir perdagangan Rabu (24/5) rupiah ditutup 12 poin atau 0,09 persen ke level Rp 13.311 per dolar AS setelah bergerak di rentang angka Rp 13.301 hingga Rp 13.328 per dolar AS.

Pagi tadi mata uang Garuda dibuka melemah 8 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp 13.307 per dolar AS. Sementara itu siang tadi pada pukul 12.00 WIB kurs rupiah 16 poin atau 0,12 persen ke Rp 13.315 per dolar AS pada akhir perdagangan sesi I hari ini.

Sepanjang hari ini para pelaku sedang fokus menanti hasil notulensi rapat dewan gubernur ata (The Fed). Gerak indeks dolar AS memang cenderung menguat pada sebagian mata uang di .

Para investor tengah menjauhi kawasan Asia pasca pemangkasan rating China oleh Moody’s pagi ini dari Aa3 menjadi A1. Moody’s memprediksi jika utang China akan membengkak di tengah pertumbuhan ekonominya yang masih lambat. “Pasar forex Asia merespons negatif pemangkasan rating China,” ujar Divya Devesh, Asia FX Strategist di Standard Chartered Bank di Singapura.

Penguatan dolar AS sendiri didukung oleh kenaikan imbal hasil US Treasury. “Sepertinya dolar AS menguat karena kekhawatiran risiko geopolitik tidak lagi menjadi berita baru,” ujar Yukio Ishizuki, analis senior mata uang Daiwa Securities.

Fokus para investor kini tengah beralih pada arah kebijakan The Fed. Sementara itu hasil pertemuan The Fed dijadwalkan akan rilis pada siang ini waktu setempat. Di sisi lain, Ekonom PT Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan jika aksi teror di Inggris kemarin telah turut menyumbang pelemahan terhadap pound sterling dan euro. “Fokus saat ini tertuju pada notulensi meetings yang akan dirilis pada Kamis dini hari,” ujar Rangga Cipta.

Loading...