Jam Kerja yang Panjang Hambat Pertumbuhan Ekonomi Asia

JAKARTA – Ketimpangan pendapatan di dan , degradasi di dan China, serta urbanisasi dan kemacetan di Manila dan Mumbai telah menjadi masalah bagi pertumbuhan ekonomi di Asia. Selain itu, hal pelik lainnya yang dihadapi mayoritas di kawasan Asia adalah jam kerja yang panjang yang memberikan tekanan tinggi kepada pekerja.

Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), masyarakat di Korea Selatan rata-rata bekerja selama 2.113 jam sepanjang tahun 2015 dan di Jepang selama kurang lebih 1.719 jam. Angka rata-rata OECD sendiri berada di kisaran 1.766 jam.

Lamanya waktu bekerja ini mengakibatkan tingkat depresi dan stress cenderung tinggi yang berdampak pada tingginya angka bunuh diri. Dalam sebuah studi terpisah, Korea Selatan memiliki tingkat tertinggi kedua di antara anggota OECD dengan 28,7 kasus bunuh diri per 100.000 orang pada tahun 2013. Sementara, Jepang berada di urutan ke empat dengan angka 18,7 kasus.

Tampaknya, ada hubungan yang relevan antara kerja keras dengan tingkat kematian di Asia. Salah satu efek samping paling tragis dari kerja keras adalah karoshi, istilah Jepang yang menggambarkan kematian akibat kerja paksa, sering dengan bunuh diri, tetapi juga terkait dengan kelelahan dan stress. Di Jepang, kasus karoshi tercatat mencapai rekor tertinggi dengan 2.310 kasus pada tahun 2015. Oktober lalu, pemerintah setempat juga memperingatkan bahwa hampir seperempat dari tenaga kerja rentan terhadap karoshi karena bekerja lebih dari 80 jam lembur setiap bulan.

Sebuah forum untuk mengatasi masalah jam kerja ini sudah diadakan di Tokyo pada tanggal 25 November lalu, dengan pembicara mulai dokter, wartawan, dan kepala sumber daya manusia. Para peserta sepakat bahwa Jepang perlu mengatur lagi kebijakan jam kerja. Selain berdampak buruk pada tingkat stress, jam kerja yang panjang sebenarnya juga kontra-produktif.

Untuk mengatasi hal ini, tampaknya Asia bisa belajar banyak dari Eropa. Jerman telah mengesahkan undang-undang yang menetapkan 40 jam kerja dalam seminggu pada setengah abad yang lalu. Survei Eurobarometer pada tahun 2014 juga menunjukkan bahwa orang-orang di Eropa senang dengan jam kerja mereka.

Sebuah solusi alternatif juga bisa datang dari sektor swasta dengan kontrak jangka pendek atau biasa disebut nomaden digital. Platform penyedia pemesanan transportasi online, seperti Grab dan Didi, mempekerjakan driver yang beroperasi sebagai kontraktor independen dan bukan karyawan.

Solusi yang lebih cepat dapat ditemukan dalam efisiensi Singapura. Meski jam kerja panjang, pekerja tampaknya lebih bahagia daripada rekan-rekan mereka di tempat lain. Sebuah survei yang dilakukan Morgan McKinley menemukan bahwa lebih dari 70 persen pekerja di Singapura bekerja lembur, dan 80 persen di antaranya lebih produktif daripada jam reguler mereka. Di Jepang, hanya 26 persen merasakan hal yang sama.

Loading...