Jaga Senkaku dari China, Jepang Berjuang Raih Pengaruh ASEAN

Vientiane – Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe diam-diam memperingatkan para pemimpin Tenggara pada Rabu kemarin agar tidak terlalu banyak konsesi ke China terkait perang diplomatik dengan Beijing menjelang KTT Timur (EAS) pada , Kamis (8/9).

“Saya berharap memainkan peran utama dalam menciptakan stabilitas dan kemakmuran di kawasan ini dengan mengikuti aturan ,” ujar Abe, Rabu (7/9) saat pertemuan dengan para pemimpin .

Abe menyatakan keprihatinan yang mendalam sehubungan dengan upaya secara sepihak untuk mengubah status quo di Laut China Selatan dan Timur selama beberapa bulan terakhir.

“Perselisihan itu sendiri adalah masalah bagi negara-negara yang terlibat, namun Laut Cina Selatan adalah laut yang sangat penting bagi Jepang,” ujarnya, melawan pernyataan China Xi Jinping yang berharap negara-negara yang tidak terkait tak boleh ikut campur dalam urusan ini.

Perdana Menteri Jepang menyebutkan bahwa pada bulan Juli putusan pengadilan arbitrase menyangkal klaim China atas Laut China Selatan dan mengikat di bawah Konvensi tentang hukum laut. “Setelah China dan Filipina mematuhi keputusan, maka akan tercipta resolusi persengketaan dengan jalur damai,” ujarnya yang secara tersirat menegur Beijing karena menolak untuk tunduk pada putusan pengadilan.

Publik berspekulasi bahwa hal ini adalah bagian dari strategi Abe untuk menggiring opini internasional dalam rangka memeriksa provokasi China di sekitar Jepang, Pulau Senkaku yang diklaim oleh Beijing sebagai Diaoyu. Faktor kemungkinan lain adalah memudarnya pengaruh menjelang akhir masa jabatan Presiden Barack Obama.

Pada pertemuan ASEAN Rabu kemarin, Abe hanya menganjurkan untuk patuh pada 3 prinsip supremasi hukum laut seperti yang ia usulkan sebelumnya. Ia berencana mengatasi masalah Senkaku dan Laut Cina Selatan di KTT Asia Timur yang kelak juga dihadiri oleh Obama. Dalam KTT Asia Timur sendiri tampaknya masalah keamanan akan lebih banyak dibahas.

Loading...