Izin Dibuka, Antam Targetkan Ekspor 850 Ribu Ton Bauksit dan 2,7 Juta Ton Nikel

Antam - asia.nikkei.com

JAKARTA – PT Aneka Tambang () kembali melanjutkan bijih dan bauksit untuk mendanai hilirnya, setelah Energi dan Sumber Daya Mineral () mencabut sebagian larangan ekspor mineral mentah. Dengan kebijakan baru ini, pun optimistis mampu mengekspor 850.000 ton bijih bauksit dan 2,7 juta ton bijih nikel hingga akhir tahun 2017.

Sebelumnya, pemerintah pada bulan Januari 2014 lalu memberlakukan kebijakan larangan ekspor mineral terpilih. Embargo tersebut lantas menimbulkan kerugian besar bagi Antam selama dua tahun, menurunkan saham mereka, hingga membuat perusahaan tersebut kekurangan dana untuk merealisasikan panjang proyek hilir yang sedang dibangun.

Harga saham Antam turun seperempat tahun ini, sementara indeks saham acuan Indonesia naik 10 persen. Tidak jelas apakah akan mendapatkan keuntungan dari relaksasi baru-baru ini terhadap kebijakan ekspor. Sekadar informasi, harga nikel di pasaran dunia tetap stabil, sebagian karena ketidakpastian di Filipina, yang menggantikan Indonesia sebagai eksportir logam terbesar di dunia.

Antam sendiri mengandalkan bijih nikel dan bijih bauksit untuk 30 persen dari pendapatannya, dan ingin memperoleh pendapatan dan mempertahankan lapangan kerja. Perusahaan pun telah melakukan pengiriman bijih nikel ke China pada bulan Mei lalu seiring dicabutnya larangan ekspor ini. “Kami ingin memaksimalkan semua kuota yang diberikan,” kata Direktur Keuangan PT Antam, Dimas Wikan Pramudhito, seperti dikutip dari Nikkei.

Hingga semester pertama 2017, ekspor bijih nikel kadar rendah dari Antam sudah mencapai 275.513 wet metrik ton, sedangkan ekspor bauksit telah mencapai 128.232 wet metrik ton. Sementara, sampai bulan Juli, perusahaan telah mulai melakukan pengapalan secara rutin, sehingga target ekspor 850.000 wet metrik ton bijih bauksit dan 2,7 juta wet metrik ton bijih nikel diharapkan tercapai.

“Kami juga mengajukan penambahan ekspor untuk nikel kadar rendah. Penambahan kuota ekspor itu dilakukan berdasarkan proyek Smelter Grade Alumina (SGA) di Maluku Utara, di Halmahera Timur,” timpal Direktur Marketing Antam, Tatang Hendra. “Untuk sementara ini, kami sedang berproses, dan angkanya mungkin nanti bergantung pada persetujuan kementerian.”

Antam juga berhasil mengangkat produksi feronikelnya, dan akan mampu mempertahankan produksi baja tahan karat mencapai 40.000 ton per tahun, sekitar dua kali lipat dibandingkan tahun 2016. Tantangan yang dihadapi menjadi jelas ketika akhir bulan lalu, Showa Denko dari Jepang mengumumkan akan menjual saham minoritasnya dalam usaha alumina (aluminium oksida) mereka di Kalimantan Barat karena keuntungan yang turun.

Loading...