Isu Rudal Korut Kembali KO Dolar, Rupiah Menguat Super Tipis

Kabar terbaru yang menyatakan bahwa Utara bakal melakukan uji coba peluncuran rudal jarak jauh langsung menyeret turun dari level tertingginya. Kondisi ini pun mampu dimanfaatkan untuk bergerak mulus di zona hijau sepanjang hari ini (9/10). Menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, NKRI berhasil mengakhiri transaksi dengan penguatan super tipis 1 poin atau 0,01% ke level Rp13.518 per dolar AS.

Sebelumnya, pada akhir pekan (6/10) lalu, rupiah harus ditutup melemah 55 poin atau 0,41% di posisi Rp13.519 per dolar AS. Kemudian, pagi tadi mata uang Garuda mampu rebound dengan dibuka menguat 8 poin atau 0,06% ke level Rp13.511 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot bergerak di kisaran Rp13.496 hingga Rp13.529 per dolar AS.

Dari global, indeks dolar AS terpantau bergerak turun pada transaksi hari ini, terutama terhadap yen Jepang, imbas kabar terbaru yang menyebutkan Korea Utara sedang mempersiapkan uji coba rudal anyar. Mata uang Paman Sam melemah 0,053 poin atau 0,06% ke level 93,747 pada pukul 09.48 WIB setelah sebelumnya ditutup di posisi 93,800 pada perdagangan Jumat.

Kantor berita RIA di Rusia melaporkan, seorang anggota parlemen Rusia yang baru kembali dari Pyongyang mengatakan bahwa Korea Utara siap untuk menguji rudal jarak jauh, yang diyakini dapat mencapai pantai barat AS. Fokus baru terhadap ketegangan geopolitik ini sontak menyeret turun dolar AS dari level tertingginya setelah laporan data pekerjaan AS.

“Ketika berita mengenai Korea Utara sampai ke pasar, ini memperparah penurunan greenback,” ujar kepala perdagangan Asia Pasifik untuk OANDA, Stephen Innes, seperti dikutip Reuters. “Pasar Asia akan benar-benar menunggu dan melihat bagaimana hal ini berlanjut serta terus memantau pemberitaan yang terkait dengan isu rudal tersebut.”

Sementara itu, siang tadi menetapkan tengah berada di level Rp13.504 per dolar AS, terdepresiasi 19 poin atau 0,14% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.485 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus greenback, dengan penguatan tertinggi sebesar 0,25% menghampiri renminbi China, disusul baht Thailand yang naik 0,17%.

Loading...