Isu Pemisahan Memanas, Bursa Bitcoin di Jepang Berencana Bekukan Transaksi

Bitcoin - www.coindesk.com

Tokyo – Debat seputar pembagian kian memanas. Salah satu tes terbesar dari akan terlihat hasilnya bulan Agustus depan. Beberapa pertukaran Bitcoin mempertimbangkan langkah pembekuan transaksi untuk melindungi di tengah perdebatan terkait bagaimana mata uang ini harus dioperasikan.

Selama ini bitcoin memang tak memiliki otoritas tunggal seperti . Sebagai gantinya, seluruh transaksi dicatat pada blockchain, sebuah buku besar terdistribusi di mana rincian transaksi dikelola di beberapa . Transaksi dicatat pada buku besar oleh para penambang alias miners bitcoin yang memang dibayar untuk ini.

Batasan kapasitas pemrosesan transaksi terdesentralisasi ini membuat biayanya semakin meroket belakangan ini disebabkan karena perdagangan BTC yang terus meningkat. Berdasarkan data dari Coindesk Index, hari ini, Kamis (13/7) bitcoin naik 0,37% ke level 2.432,16 atau sekitar Rp 32,4 jutaan.

Para pengguna Bitcoin seperti di bursa AS telah berupaya melakukan berbagai langkah untuk mengurai kemacetan ini, tetapi langkah tersebut menemui hambatan dari para penambang. Banyak orang China yang kecewa dengan prospek biaya yang lebih rendah.

Pengguna yang tak sabar dengan minimnya progres mengatakan bahwa mereka akan melakukan perubahan pada 1 Agustus untuk mengatasi masalah ini. Hal tersebut dikhawatirkan dapat menciptakan ‘fork’ atau dua bitcoin yang tidak kompatibel.

“Jika benar-benar ada fork, beberapa catatan transaksi bisa hilang. Karena riwayat transaksi digunakan untuk menentukan kepemilikan bitcoin, maka kehilangan data ini bisa membuat bitcoin tidak berharga,” ujar Masayuki Tashiro, analis bursa pertukaran Fisco, seperti dilansir Nikkei.

bitcoin sendiri hingga kini masih mencermati kemungkinan apakah perpecahan bitcoin akan benar-benar terjadi. Tetapi Japan Cryptocurrency Business Association yang memiliki anggota sekitar 14 bursa pertukaran tengah mempersiapkan kemungkinan tersebut dengan menyusun panduan untuk membekukan transaksi bitcoin yang berlangsung antara 1 hari dan 1 minggu demi melindungi aset pelanggan.

Beberapa bursa bitcoin di Jepang seperti Bitbank dan Tech Bureau berencana membiarkan perdagangan berlanjut sambil memblokir deposito dan penarikan sampai isu terkait fork diselesaikan. Burs bitcoin terbesar di Jepang, BitFlyer sendiri menyatakan jika pihaknya masih belum memiliki rencana, namun kemungkinan akan mengumumkan rencananya pekan depan. Di sisi lain, bursa bitcoin Swiss, Bity akan menghentikan perdagangan setidaknya pada (29/7) mendatang.

Kegagalan infrastruktur yang mendukung mata uang virtual untuk mengikuti kenaikan volume transaksi telah menimbulkan masalah yang tak terduga. Terlebih kerangka hukum yang tak pasti seputar cryptocurrency juga menjadi sumber masalah. Banyak pertukaran bitcoin di luar Jepang yang tak mengharuskan pengguna untuk memverifikasi identitas mereka. Hal ini yang menurut para kritikus memungkinkan penggunaan bitcoin sebagai media pembayaran untuk uang tebusan.