Isu Deforestasi di Asia Tenggara Ancam Industri Konstruksi Jepang

Isu Deforestasi di Asia Tenggara Ancam Industri Konstruksi Jepang

Sejumlah wilayah di kini mulai melakukan berbagai langkah untuk melindungi kawasan hutannya. Namun rupanya langkah perlindungan ini dinilai bisa mengancam konstruksi di . Pasalnya industri konstruksi selama ini sangat bergantung pada yang dipasok dari -negara Asia Tenggara yang saat ini mengurangi ekspor mereka secara signifikan akibat masalah deforestasi.

Sebagai , menurut World Wildlife Fund (WWF), hutan diperkirakan akan menyusut sekitar 75% pada tahun 2020 apabila laju deforestasi tak segera dihentikan. Dari sekitar 74 juta hektare hutan yang dimiliki oleh , hanya 71% yang tersisa pada 2005. Kemudian pada 2015 makin menyusut jadi 55%. telah banyak mengekspor kayu-kayu berkualitas tinggi ke negara-negara seperti Jepang.

Walaupun ada harapan bahwa industri kayu Jepang bisa mengisi kekurangan pasokan kayu dari Asia Tenggara, namun langkah tersebut dianggap mustahil. Pasalnya kayu lapis dari pohon-pohon di Jepang tak sekuat kayu dari Asia Tenggara dan jumlahnya pun terbatas. Di sisi lain muncul langkah untuk mengadopsi solusi jangka panjang dari Jepang untuk membantu mempertahankan industri kehutanan Asia Tenggara.

Kayu di kawasan Asia Tenggara dinilai memiliki kekuatan yang superior dan Jepang biasanya menggunakan papan kayu lapis asal Asia Tenggara untuk membentuk beton di lokasi konstruksi. Berdasarkan dari Japan Plywood Manufacturers’ Association, jumlah kayu lapis yang digunakan Jepang untuk bekisting setiap tahunnya diperkirakan mencapai 700.000 meter kubik dan hampir 90% berasal dari Asia Tenggara, terutama Malaysia dan Indonesia.

“Untuk membantu industri kehutanan di Asia Tenggara mempertahankan keberlanjutannya, pembeli Jepang harus memanfaatkan teknologi Jepang untuk mendukung proyek penanaman dan upaya pengembangan di Asia Tenggara,” kata Yoichi Hosoya, yang memimpin operasi penanaman Sumitomo Forestry di Indonesia, seperti dilansir Nikkei.

Lebih lanjut Hosoya menjelaskan bahwa teknologi Jepang berguna untuk berbagai hal, misalnya untuk membantu memperbaiki tanah hingga mencatat area terdalam dari hutan dan transportasi secara lebih efisien. Di Indonesia, bantuan teknologi Jepang tersebut telah membantu petani untuk menghasilkan pohon yang bisa memiliki kekuatan cukup dalam 10-15 tahun. Kayu lapis dari pohon tersebut makin banyak dipakai pada furnitur dan dinding interior.

Loading...