Isu Brexit Katrol Dolar, Rupiah Drop di Senin Sore

Rupiah melemah seiring dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia - www.wartaekonomi.co.id

praktis tidak memiliki peluang untuk bergerak ke area hijau pada perdagangan Senin (15/10) sore, setelah indeks terus menguat seiring kegagalan upaya Inggris dalam kesepakatan . Menurut laporan pukul 15.56 WIB, Garuda 23 poin atau 0,15% ke level Rp15.220 per .

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp15.246 per dolar AS, terdepresiasi 52 poin atau 0,34% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.194 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia takluk versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,4% menghampiri rupee India.

Dari global, indeks dolar terus bergerak menguat pada hari Senin, seiring kejatuhan pound sterling dan euro setelah kegagalan upaya Inggris dalam kesepakatan Brexit menjelang KTT Uni Eropa, yang diperkuat preferensi untuk mata uang safe haven. Mata uang Paman Sam terpantau naik 0,114 poin atau 0,12% ke level 95,335 pada pukul 10.55 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, masalah perbatasan tanah Inggris dan Irlandia telah menggagalkan upaya untuk mencapai kesepakatan Brexit, yang membuat pound sterling tertekan. Pressure terhadap pound sterling semakin tinggi setelah komentar mantan menteri luar negeri Boris Johnson di kolom surat kabar pada Minggu (14/10), yang menyebutkan bahwa Inggris harus berdiri di atas Uni Eropa dan menekan kesepakatan ‘Super Canada’.

“Fokus utama untuk pound sterling adalah Brexit, sedangkan data hanya selingan,” ujar direktur strategi pertukaran valuta asing di BK Asset Management di New York, Kathy Lien, dalam sebuah catatan. “Waktu terus bergulir dan kesepakatan semakin dekat, tetapi dibakar oleh harapan palsu. Investor mengabaikan berita utama yang bertentangan dan menanti konfirmasi resmi.”

Di sisi lain, yen Jepang menguat 0,12% menuju level 112,07 terhadap dolar AS pada hari Senin, penguatan keenam dari tujuh sesi perdagangan terakhir, karena sentimen risk-off global membuat investor berlindung di balik mata uang tersebut. Seperti diketahui, AS baru-baru ini memasukkan ketentuan untuk mencegah manipulasi mata uang dalam perdagangan di masa depan, termasuk dengan Negeri Sakura.

Loading...