Investor Cenderung Hati-Hati, Rupiah Berakhir Positif

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (26/10) sore - ijn.co.id

JAKARTA – Sempat terjungkal ke zona merah, rupiah akhirnya menutup Senin (26/10) sore di area hijau, ketika investor cenderung berhati-hati di tengah kasus -19 gelombang kedua yang semakin meluas dan ketidakpastian stimulus fiskal . Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.650 per dolar AS.

Sementara itu, data yang dirilis pukul 10.00 WIB tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.697 per dolar AS, naik 41 poin atau 0,28% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.738 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, termasuk ringgit Malaysia, yen Jepang, dan rupee India.

“Hari ini nyaris tidak ada sentimen yang bisa mendongkrak mata uang Tanah ,” ulas CNBC Indonesia. “Pertama, perdagangan pekan ini cuma berlangsung dua hari karena libur panjang Maulid Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk memperpanjang PSBB transisi, namun bukan tidak mungkin akan diterapkan PSBB yang lebih ketat jika kasus penyebaran COVID-19 masih tinggi.”

Dari pasar , dolar AS mendapat dukungan luas pada hari Senin, karena melonjaknya kasus corona di Eropa dan serta kurangnya kemajuan menuju paket stimulus AS membuat para pedagang cenderung berhati-hati. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,114 poin atau 0,12% ke level 92,882 pada pukul 14.50 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, Amerika Serikat telah mencatat jumlah kasus COVID-19 baru tertinggi selama dua hari berturut-turut dan begitu pula Prancis. Sementara itu, Spanyol mengumumkan keadaan darurat baru menyikapi lonjakan kasus positif virus corona gelombang kedua, sedangkan Italia telah memerintahkan restoran dan bar untuk tutup pada pukul 6 sore.

“Kombinasi dari surutnya harapan untuk kesepakatan fiskal pra-pemilihan presiden dan berita tentang COVID-19 serta kemungkinan lockdown yang lebih ketat sudah cukup untuk menggigit pasar saham,” kata kepala strategi FX di National Australia Bank, Ray Attrill. “Penurunan setengah persen di S&P 500 futures ESc 1 telah meluas ke pasar mata uang, ketika investor lebih berhati-hati menjelang pemilihan AS pada 3 November.”

Loading...