Insiden Penembakan Natuna, China Seret Indonesia dalam Konflik Laut China Selatan

diduga menyudutkan dan berusaha menyeret dalam konflik Laut Selatan. Hal ini seiring insiden ditembaknya kapal nelayan di perairan Natuna pada Jumat (17/6) pekan lalu oleh Kapal Perang TNI Angkatan Laut (KRI) Imam Bonjol-383.

China menyebut, tembakan itu melukai seorang nelayan mereka yang berada di atas kapal. Atas insiden itu, Negeri Tirai Bambu pun mendesak agar Indonesia tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh hubungan kedua .

Menurut mantan duta besar yang juga penasihat senior Indonesia untuk urusan maritim, Hasjim Djalal, insiden yang terjadi baru-baru ini di Natuna menunjukkan upaya China untuk “menyudutkan” Indonesia. “China yang dalam sengketa dengan Filipina, , , dan Brunei tampaknya mencoba menyeret Indonesia ke dalam sengketa ini,” kata Hasjim.

Untuk menyelesaikan konflik di Laut China Selatan, Menteri Koordinator Bidang Politik, , dan Keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan, segera membentuk tim pakar. “Kami akan membuat tim pakar, kami berbicara internasional. Bagaimana enaknya hubungan dengan China ini tetap baik, tetapi kedaulatan tidak terganggu,” kata Luhut.

“Pemerintah tidak ingin mengulang kesalahan seperti yang terjadi pada persoalan Sipadan dan Ligitan,” sambungnya. “Setelah digambarkan Profesor Hasjim Djalal, ada pembenaran-pembenaran yang memperkuat posisi Indonesia.”

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, memuji tindakan tegas yang menembak kapal China. “ sudah betul menjaga kedaulatan laut Indonesia beserta isinya. Penembakan itu pasti sudah sesuai prosedur,” tulis Susi dalam akun -nya.

Loading...