Inflasi Maret Rendah, Rupiah Menguat di Akhir Senin

Rupiah menguat Senin (1/4) soreRupiah menguat Senin (1/4) sore - bisnis.com

JAKARTA – mampu bergerak cukup stabil di zona hijau hingga Senin (1/4) sore, menyusul angka Indonesia bulan Maret 2019 yang dilaporkan tetap rendah dan relatif stabil. Menurut paparan Index pada pukul 15.56 WIB, Garuda menguat 14 poin atau 0,10% ke level Rp14.229 per AS.

Pagi tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa selama bulan Maret 2019, Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,11%, dengan Indeks Konsumen (IHK) sebesar 135,87. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari hingga Maret) 2019 menjadi sebesar 0,35%, sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun (Maret 2019 terhadap Maret 2018) sebesar 2,48%.

Menurut rilis resmi BPS, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau naik sebesar 0,21%; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar naik sebesar 0,11%; kelompok sandang sebesar naik 0,23%; sedangkan kelompok kesehatan sebesar naik 0,24%.

“Kenaikan harga bawang merah, bawang putih, dan tiket pesawat turut andil dalam menyebabkan inflasi sepanjang bulan Maret,” jelas Kepala BPS, Suhariyanto. “Namun, beberapa bahan makanan, seperti beras, ayam ras, dan ikan segar yang mengalami penurunan harga. Hal ini yang kemudian menyeimbangkan kondisi inflasi.”

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.231 per , menguat 13 poin atau 0,09% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.244 per . Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia mampu mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,25% masing-masing dialami rupee India dan won Korea Selatan.

Dikutip Bloomberg, mata uang Benua Kuning kompak naik setelah indeks manajer pembelian manufaktur China dilaporkan menguat pada bulan Maret. Indeks manajer pembelian (Purchasing Managers Index) sektor manufaktur Negeri Tirai Bambu terpantau naik menjadi 50,5 dari 49,2 pada bulan sebelumnya, atau kenaikan terbesar sejak 2012.

Negeri China telah membaik, yang mendukung stabilisasi dalam global,” papar kepala ekonom global di Guotai Junan Securities Co., Hua Changchun. “Stabilisasi itu juga akan mendongkrak sektor kawasan Eropa dan Amerika Serikat, serta dapat mendorong kenaikan harga aset global.”

Loading...