Inflasi Indonesia Tetap Rendah, Rupiah Berakhir Turun Tipis

Seperti diprediksi sebelumnya, bakal menutup perdagangan awal pekan (4/12) ini dengan pelemahan tipis setelah data dilaporkan tetap rendah. Menurut catatan Bloomberg Index pukul 15.56 WIB, Garuda menyelesaikan transaksi dengan pelemahan sebesar 4 poin atau 0,03% ke level Rp13.527 per AS.

Sebelumnya, rupiah ditutup terdepresiasi di posisi Rp13.523 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (1/12) lalu. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut tadi pagi dengan dibuka melemah 12 poin atau 0,09% ke level Rp13.535 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot bergulir di kisaran level Rp13.520 hingga Rp13.549 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik () melaporkan bahwa Indonesia pada bulan November 2017 kemarin mengalami inflasi sebesar 0,2%. Angka ini sedikit di bawah proyeksi yang sebesar 0,23% berdasarkan hasil survei mingguan pekan kedua November 2017, namun tetap lebih rendah dari periode yang sama pada tiga tahun yang lalu.

“Inflasi November 2017 jauh lebih rendah dibandingkan inflasi (bulanan) November tiga tahun sebelumnya,” papar Kepala BPS, Suhariyanto. “Kami tentunya berharap masih ada satu bulan lagi di Desember agar harga-harga komoditas tetap terkendali sehingga inflasi tahunan bisa memenuhi target yang ditetapkan.”

Sementara, dari global, indeks dolar AS melambung ke posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir pada transaksi hari ini karena pelaku menyikapi positif persetujuan Senat AS atas RUU akhir pekan lalu. Mata uang Paman Sam tersebut terpantau menguat 0,244 poin atau 0,26% ke level 93,129 pada pukul 07.07 WIB terhadap sekeranjang mata uang utama dunia.

Sabtu (2/12) kemarin, Senat AS menyetujui perombakan pajak sehingga memuluskan langkah Partai Republik dan Presiden menuju tujuan mereka untuk memangkas pajak bagi perusahaan. Langkah tersebut kemungkinan akan semakin meningkatkan laba perusahaan dan menyebabkan banyak terjadinya saham.

“Kemungkinan pemotongan pajak yang diajukan ke meja Trump untuk ditandatangani meningkat secara signifikan,” ujar kepala analis pasar di IG, Chris Weston, seperti dilansir Reuters. “Kami pun memulai minggu ini dengan proses rekonsiliasi antara rencana pajak parlemen dan senat.”

Loading...