Inflasi Februari Tinggi, Rupiah Drop di Akhir Transaksi

Februari 2017 yang dilaporkan cukup tinggi plus penguatan di membuat rupiah harus terkapar di sesi dagang Rabu (1/3) ini. Menurut laporan Index pukul 15.59 WIB, Garuda mengakhiri transaksi hari ini dengan pelemahan sebesar 25 poin atau 0,19% ke level Rp13.363 per AS.

Rupiah sudah melemah sejak awal dagang dengan 25 poin atau 0,19% ke posisi Rp13.363 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali terdepresiasi 21 poin atau 0,16% ke level Rp13.359 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.52 WIB, spot masih tertahan di zona merah usai anjlok 26 poin atau 0,19% ke level Rp13.364 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada bulan Februari 2017 mencapai 0,23%. Sementara, inflasi dari tahun ke tahun tercatat 1,21% dan inflasi tahun kalender di angka 3,82%. Angka inflasi pada Februari 2017 ini cukup tinggi jika dibandingkan dua periode sebelumnya, dengan tahun 2015 mengalami deflasi 0,36% dan tahun 2016 terjadi deflasi 0,09%.

Penyebab tingginya angka inflasi di Februari 2017 adalah komponen perumahan air listrik, gas, dan bahan bakar yang menyumbangkan 0,17%. “Ini disebabkan kenaikan tarif dasar listrik 900 VA untuk pelanggan pasca-bayar,” jelas Kepala BPS, Suhariyanto.

Dari global, indeks dolar AS berhasil rebound meski pidato Donald Trump pagi tadi hanya memberikan sedikit detail tentang kebijakan ekonominya. The greenback membuka perdagangan di zona hijau, lalu kembali menguat 0,470 poin atau 0,46% ke 101,590 pada pukul 13.41 WIB usai prediksi kenaikan suku bunga AS melampaui posisi 50% setelah Ketua Fed wilayah New York, William Dudley, dan rekannya dari San Francisco, John Williams, mengisyaratkan keinginan yang besar untuk mengetatkan kebijakan moneter.

“Posisi dolar AS sebelumnya cukup selaras dan Trump tidak menyatakan hal yang negatif, jadi saat ini dolar AS ditopang oleh harapan kenaikan suku bunga The Fed,” kata Head of FX and Money-Market Sales Societe Generale, Kyosuke Suzuki. “Kekhawatiran akan pelemahan dolar secara umum telah reda akibat harapan terhadap The Fed.”

Loading...