Inflasi Mulai Berdenyut, Rupiah Justru Berakhir Lemas

Rupiah - www.indopos.co.idRupiah - www.indopos.co.id

JAKARTA – gagal mempertahankan posisi di teritori hijau pada perdagangan Rabu (1/7) sore, ketika dalam negeri dilaporkan mulai berdenyut setelah terguncang akibat pandemi yang berlarut-larut. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda melemah 17 poin atau 0,12% ke level Rp14.282 per AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa sepanjang bulan Juni 2020, Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,18%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,07%. Sementara, angka inflasi tahunan kalender per Juni 2020 sebesar 1,09% dan inflasi tahunan sebesar 1,96%.

“Pola inflasi setelah Ramadan dan Idul Fitri kali ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, setelah Ramadan dan Idul Fitri, inflasi melandai,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto, dilansir Bisnis. “Namun, pada bulan Ramadan dan Idul Fitri sekarang, inflasi lumayan flat, kemudian mengalami kenaikan pada bulan Juni.”

Suhariyanto melanjutkan, inflasi tertinggi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,47%, dengan andil 0,12%. Kemudian, inflasi karena harga ayam daging ras naik sebesar 0,04%. Selanjutnya, inflasi tertinggi juga berasal dari kelompok transportasi dengan inflasi 0,41% dan andil 0,05%. “Ada kenaikan tarif angkutan udara yang memberi andil 0,02% dan kenaikan tarif angkutan antarkota dan roda dua, masing-masing andil 0,01%,” sambung Suhariyanto.

Namun, angka inflasi dalam negeri yang mulai berdenyut gagal mempertahankan posisi rupiah di area hijau. Pasalnya, dari pasar , indeks dolar AS tetap mampu mengungguli yen Jepang pada hari Rabu menjelang rilis aktivitas manufaktur dan tenaga kerja yang diharapkan terus pulih dari guncangan yang disebabkan pandemi coronavirus. Mata uang Paman Sam diperdagangkan di level 107,83 terhadap yen, dekat posisi tertinggi tiga minggu.

akan menerima dukungan terhadap yen jika data ekonomi AS positif, tetapi imbal hasil AS tidak naik banyak karena spekulasi tentang kontrol kurva hasil,” kata kepala valuta asing dan ekuitas Jepang di Merrill Lynch Japan Securities, Shusuke Yamada, dilansir Reuters. “Sementara, euro terlihat stabil, tetapi ada pertanyaan tentang Brexit dan laju pembukaan kembali ekonomi, yang berarti euro bisa dinilai terlalu tinggi.”

Loading...