Industri E-Commerce Untung Besar, Gaji Driver Tetap Rendah

Industri E-Commerce - ekbis.sindonews.comIndustri E-Commerce - ekbis.sindonews.com

JAKARTA – Walau dunia dikurung wabah , tahun 2020 bisa dikatakan sebagai tahun emas bagi banyak perusahaan di Indonesia. Ketika memproyeksikan ekonomi  menyusut sebesar 2,2%, transaksi e-niaga justru diperkirakan melonjak sebesar 52% menjadi 32 miliar dolar AS. Sayangnya, keuntungan e-commerce agaknya tidak mengalir ke karyawan, terutama pengemudi.

Seperti dilansir dari Nikkei, industri e-niaga dan pengiriman telah dibanjiri keuntungan di tengah ‘pembantaian ekonomi’ oleh COVID-19. Pemenang besar adalah Gojek, yang melihat nilai transaksi bruto sebesar 12 miliar dolar AS pada November lalu, meningkat 10% dari tahun sebelumnya. Pada bulan yang sama, Telkomsel mengantongi investasi 150 juta dolar AS, di atas putaran pendanaan 3 miliar dolar AS yang dimulai pada 2018 dan ditutup pada Juni 2020, yang diikuti oleh raksasa AS, Facebook dan PayPal Holdings.

Perusahaan seperti Gojek bergantung pada kumpulan sopir pengiriman yang sayangnya dibayar relatif rendah. Komaruddin, seorang pria berusia 28 tahun, mengatakan bahwa dia bisa menghasilkan sekitar Rp200.000 per hari ketika pertama kali bergabung dengan Gojek pada awal 2018. Sebelum pandemi, dia bekerja 12 jam sehari, menjelajahi jalan-jalan untuk , dan biasa mengambil satu hari libur setiap minggu.

Kemudian, virus corona menyerang, dan jam kerjanya bertambah. Dalam beberapa bulan terakhir, dia telah bekerja 16 jam sehari dan hanya mengambil satu hari libur setiap dua minggu. Namun, dia hanya membawa pulang setengah, atau bahkan kurang, dari apa yang biasa dihasilkan. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menganggur, menunggu pesanan masuk melalui aplikasi smartphone.

Gaji driver merosot sebagian karena bisnis yang menguntungkan untuk mengangkut penumpang telah mengering, sementara pengiriman makanan, yang melonjak, memakan waktu dan menghasilkan bayaran lebih rendah. “Namun, saya kira untuk saat ini, karena COVID-19, itu lebih aman daripada membawa penumpang,” kata Komaruddin.

Meskipun permintaan lebih tinggi, kurir dari banyak perusahaan melaporkan bahwa mereka dibayar lebih rendah. Kurir yang diwawancarai dari enam perusahaan berbeda kebanyakan berbicara tentang jam kerja yang lebih panjang dan gaji per pengiriman yang lebih rendah selama pandemi. Seorang kurir dari JNE Express mengatakan, beban kerja dan bayarannya sama sebelum dan selama pandemi. Sebaliknya, seorang kurir Lazada Express mengaku dia telah mengirimkan lebih sedikit paket untuk gaji bulanan yang sama, yang berarti bayaran per paket lebih tinggi.

Gojek sebelumnya kerap memberikan bonus harian kepada pengemudi yang memenuhi kuota pengiriman harian. Namun sekarang, skema bonus telah ditangguhkan, yang berarti pembayaran per pengiriman telah turun. Menurut Igun Wicaksono, Ketua Garda, rata-rata penurunan 20% menjadi sekitar Rp4.000 bersih per pengiriman untuk pengemudi di Jakarta dan kota-kota satelit.

“Kami tidak menyimpan angka resmi, tetapi ada berbagai laporan pengemudi yang terjangkit virus corona dan terlibat kecelakaan kerja,” katanya. “Itu karena pesanan semakin sulit ditemukan. Upaya yang kami lakukan dan energi yang kami keluarkan untuk mendapatkan pesanan lebih besar, mengakibatkan fokus yang buruk saat mengemudi, yang menyebabkan lebih banyak kecelakaan.”

Tahun lalu, Gojek mengatakan telah mengumpulkan lebih dari Rp100 miliar sebagai dana dukungan untuk mitra pengemudi, dengan ‘kontribusi signifikan dari pimpinan Gojek, karyawan, dan mitra perusahaan’. Perusahaan mengklaim, dana tersebut digunakan antara lain untuk mendistribusikan jutaan voucher makan dan ratusan ribu paket sembako untuk pengemudi dan keluarganya.

“Dalam banyak hal, kurir pengiriman adalah yang beruntung,” ujar Dwi Topan, seorang kurir di SiCepat. “Alasannya adalah, tidak seperti pengemudi non-karyawan di layanan ride-hailing seperti Gojek dan Grab, saya adalah karyawan tetap penuh waktu, dengan asuransi jiwa dan bersama dengan tunjangan hari raya. Tentu saja saya lelah, tetapi saya bersyukur, dan saya senang harus mengirimkan banyak paket, karena itu berarti lebih banyak bonus.”

Heru Sutadi, direktur eksekutif ICT Institute yang berbasis di Jakarta, menunjukkan bahwa sekitar tahun 2015, di masa-masa awal operasi taksi online di Indonesia, pengemudi dapat dengan mudah mendapatkan lebih dari upah minimum regional Jakarta. Itu akhirnya menarik banyak orang untuk melakukan pekerjaan yang sama, dan sekarang diperkirakan ada 4 juta pengemudi online di Indonesia yang bekerja untuk Gojek dan Grab.

“Para pengemudi bersaing lebih banyak untuk mendapatkan penghasilan yang lebih sedikit , dan pandemi telah memperburuk keadaan mereka,” tutur Heru. “Pandemi ini memang melanda semua sektor, termasuk pendapatan para pengemudi taksi online. Namun, platform ini telah mengantongi banyak investasi dari berbagai sumber, sehingga mereka seharusnya lebih memperhatikan kesejahteraan pengemudi. Bagaimanapun, merekalah yang telah membantu unicorn berkembang.”

Loading...