Induk Shopee Caplok BKE, Panaskan Persaingan Fintech di Indonesia & ASEAN

Ilustrasi: pengguna aplikasi Shopee (sumber: insideretail.asia)Ilustrasi: pengguna aplikasi Shopee (sumber: insideretail.asia)

SINGAPURA – Grup layanan internet yang berbasis di Singapura sekaligus induk , Sea, dikabarkan telah memperoleh kendali mayoritas atas Kesejahteraan Ekonomi (BKE), demikian dilansir dari Nikkei Asia. Langkah tersebut diyakini dapat mempercepat perluasan layanan keuangan milik di Asia Tenggara, sekaligus memanaskan pertarungan di kawasan ini.

Sebelumnya, Turbo Cash, anak perusahaan Sea yang berbasis di Hong Kong, pertama kali mengakuisisi 71,94% saham Danadipa Artha Indonesia (DAI) pada Januari tahun lalu dan secara bertahap meningkatkan kepemilikan mereka di perusahaan tersebut menjadi 82,19% pada November 2020. Turbo Cash juga mengambil 66,66% saham Koin Investama Nusantara (KIN) pada Juni 2020. Nah, DAI memegang 94,95% BKE, sedangkan KIN memiliki 5,05% sisanya, memberikan Sea kepemilikan tidak langsung atas bank tersebut.

Melalui bank ini, Sea akan dapat memberikan pinjaman online dan layanan keuangan lainnya di Indonesia, yang dikenal sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan salah satu pasar utama untuk platform e-commerce Shopee. Sea juga akan dapat memanfaatkan jaringan pelanggan individu dan korporat BKE yang ada, yang dibangun melalui Shopee dan game online-nya.

BKE sebenarnya adalah bank yang relatif kecil, dengan total aset Rp4,39 triliun pada akhir tahun 2019. Berkantor pusat di Jakarta, lembaga ini memiliki delapan cabang di Indonesia. Meskipun kecil, akuisisi tersebut memberi Sea akses ke bank komersial berlisensi dan sumber dayanya. Kesepakatan itu adalah akuisisi bank pertama Sea dan terjadi tepat setelah mereka memenangkan lisensi perbankan digital di Singapura.

Terdaftar di New York, Sea adalah perusahaan terdaftar paling berharga di Asia Tenggara dengan kapitalisasi pasar sekitar 100 miliar . Perusahaan berkembang secara agresif karena pandemi COVID-19 mempercepat digitalisasi di wilayah tersebut. Sea telah meluncurkan bisnis keuangan, terutama platform elektronik yang dikenal sebagai ShopeePay dan AirPay, di enam negara di kawasan ASEAN.

Namun, keuangan masih merupakan bisnis yang relatif baru bagi perseroan. Selama Juli hingga September 2020, unit keuangan Sea melaporkan pendapatan hanya 14 juta dolar AS dan kerugian operasional sebesar 151 juta dolar AS, yang mencerminkan pengeluaran pemasaran yang agresif untuk menumbuhkan bisnis keuangannya. Dengan akuisisi BKE, Sea memasuki sektor jasa keuangan digital yang sangat kompetitif.

Di Indonesia, Gojek sebelumnya telah mengakuisisi 22% saham Bank Jago pada akhir tahun lalu untuk menyediakan layanan bank digital di aplikasinya, sedangkan saingan utama mereka, Grab, berinvestasi di layanan pembayaran seluler milik negara, LinkAja. Grab juga merupakan pemegang saham utama operator pembayaran elektronik Indonesia, OVO, yang memiliki hubungan dekat dengan Bank Nobu melalui pemegang saham, Grup Lippo.

Loading...