Indonesia Masuk Negara Terbesar Pemboros Bahan Pangan Akibat Buruknya Infrastruktur

Distribusi ikan pindang di pasar Gadang Malang

Berdasarkan data dari Economist Intelligence Unit (EIU) menyebutkan bahwa merupakan negara kedua terbesar dalam hal boros makanan. Hal tersebut diperkuat dengan temuan angka hampir sekitar 300 kilogram makanan per orang setiap tahunnya.

Unit yang tergabung dalam Economist Group mengungkapkan di tahun , Indonesia perlu meningkatkan kesadaran di kalangan konsumen untuk mengurangi pemborosan pangan. Studi yang diberi judul “Memperbaiki Makanan: Menuju Sistem Pangan Yang Berkelanjutan”, menemukan hasil bahwa Indonesia berada hanya satu tingkat di bawah dalam hal limbah makanan.

Negara boros makanan lain yaitu , yang menyentuh angka hampir 277 kilogram makanan per kapita setiap tahun, serta Uni Emirat Arab yang memboroskan sekitar 196 kilogram per orang setiap tahunnya.

Tingginya angka di Indonesia, menurut spesialis energi, dapat disebabkan oleh infrastruktur yang tidak memadai antara penghasil makanan dan pusat populasi utama, yang dapat menyebabkan penundaan transportasi pangan.

“Ada masalah dalam rantai pasokan, dimana kita sering mengalami masalah mengenai daya tahan produk makanan. Saat mereka memasuki pasar atau menjangkau pelanggan, ujar Aretha Aprilia, spesialis energi terbarukan di perusahaan rekayasa CDM Smith.

Berdasarkan laporan EIU, menunjukkan bahwa masalah infrastuktur telah melakukan langkah-langkah untuk mengatasi hilangnya pangan pasca panen, namun tidak komprehensif sepanjang rantai pasokan.

Indonesia, misalnya, memiliki kapasitas penyimpanan hanya 200.000 ton makanan, sementara tahun ini membutuhkan setidaknya 1,7juta ton, atau sekitar 30% lebih banyak dari dua tahun lalu. Hal tersebut menurut perkiraan konsultan Supply Chain Indonesia.

Konsumen Indonesia juga dapat menjadi penyebab boros makanan. Studi terakhir yang diakukan Aretha menunjukkan bahwa lebih dari separuh sampah di Jakarta adalah limbah dapur yang membusuk sehingga menghasilkan metana, salah satu gas yang berkontribusi terhadap efek rumah kaca dan perubahan iklim.

Fakta bahwa orang Indonesia membuang begitu banyak makanan menjadi sesuatu yang ironis karena jutaan orang di negara ini menderita kekurangan gizi, sebesar 7,6 persen dari 260 juta penduduk, menurut laporan EIU. Dalam hal ini, Indonesia hanya lebih baik dari Ethiopia (32 persen) dan India (15,2 persen).

Lebih dari 36 persen anak balita Indonesia menderita akibat berkurangnya pertumbuhan karena kekurangan gizi berkepanjangan. Sekitar 14 persen anak-anak menderita kehilangan massa otot akut.

Laporan EIU mengusulkan kepada pemerintah agar dapat mulai memberlakukan denda kepada pemboros makanan atau menawarkan insentif untuk rumah tangga dan yang memanfaatkan makanan yang dapat diperoleh kembali untuk manusia, pakan ternak, keperluan industri, pencernaan anaerobik dan pengomposan.

Perbaikan infrastruktur juga penting untuk menghindari lebih banyak limbah pangan. Presiden Joko Widodo memprioritaskan pembangunan infrastruktur seperti jalan tol dan pelabuhan yang dibangun di seluruh Indonesia. Pemerintah juga akan membuka sektor “cold storage” kepada investor asing untuk mempercepat pertumbuhannya.

Menurut Aretha, pengetahuan juga penting. Petani Indonesia harus diajari cara menyimpan produk mereka dengan benar untuk menghindari kedaluwarsa. “Konsumen juga harus disadarkan tentang untuk mencegah pemborosan makanan. Di Jepang dan , beberapa restoran prasmanan mengharuskan pelanggan untuk mengambil hanya sebanyak yang bisa mereka makan,” kata Aretha.

Memberlakukan peraturan seperti yang dilakukan di restoran yang ada di Jepang dan Thailand apabila diterapkan di Indonesia, diharapkan dapat mengurangi jumlah makanan yang terbuang sia-sia.