Masalah Minyak Sawit, Indonesia Tak Sabar Hadapi Uni Eropa di WTO

Minyak SawitMinyak Sawit

JAKARTA – pada Selasa (7/1) kemarin mengatakan bahwa mereka berharap segera memulai konsultasi ke World Trade Organization (WTO) setelah mengajukan gugatan yang ditujukan untuk menyelesaikan perselisihan dengan Uni Eropa terkait minyak . Jika solusi yang disepakati bersama tidak tercapai selama fase konsultasi 60 hari, sebuah panel akan dibentuk oleh Dispute Settlement Body WTO untuk melakukan abjudikasi.

“Kami perlu melakukan konsultasi ini sesegera mungkin, karena tekanan Uni Eropa terhadap minyak sawit semakin kuat,” kata Wakil Menteri Indonesia, Jerry Sambuaga, pada konferensi pers di Jakarta, dilansir Nikkei. “Indonesia menolak segala bentuk diskriminasi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip bebas, keterbukaan, imparsialitas, dan konsistensi.”

Minyak sawit banyak digunakan dalam barang dan makanan sehari-hari, mulai dari margarin dan selai kacang hingga kosmetik dan biofuel. Indonesia adalah produsen terbesar di dunia, memberikan kontribusi 56% dari pasokan minyak sawit pada tahun 2018, diikuti oleh Malaysia dengan 28%. Namun, budidaya kelapa sawit dinilai telah merusak dan bertanggung jawab atas meluasnya deforestasi, penipisan habitat dan emisi gas rumah kaca.

Hal tersebut lantas membuat Komisi Eropa memutuskan untuk menghapus impor minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar transportasi melalui Renewable Energy Directive 2021-2030. Peraturan tersebut, yang dibentuk pada 2018, telah memicu protes dari Indonesia dan Malaysia, yang secara terpisah mengatakan akan mengajukan keluhan terhadap WTO terhadap blokade minyak sawit Uni Eropa.

Pejabat Indonesia telah berulang kali mengancam akan membawa sengketa kelapa sawit ke WTO, dan akhirnya mengajukan gugatan formal ke WTO pada 9 Desember 2019. Direktur Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan, Pradnyawati, mengatakan bahwa perlu waktu lebih dari setahun sejak Presiden Joko Widodo pertama kali menyatakan ketidaksenangannya dengan perlakuan diskriminatif Uni Eropa, untuk menyewa dan menyiapkan kasus ini dengan tim pengacara internasional dan lokal.

Data perdagangan Indonesia menunjukkan tren penurunan ekspor minyak sawit dan biofuel ke Uni Eropa selama lima tahun terakhir. Pada Januari-September 2019, ekspor biofuel berjumlah 882 juta dolar AS, turun 6% dari periode yang sama tahun 2018. Uni Eropa sendiri adalah salah satu pasar ekspor utama bagi Indonesia dan Malaysia. Karena itu, kedua negara khawatir kampanye tanpa henti terhadap minyak sawit dapat memicu reaksi global yang lebih luas, yang akan mengancam kelangsungan industri.

Loading...