Indonesia Disarankan Hapus Subsidi BBM, Malaysia Tingkatkan Ekspor

Merosotnya kurs di beberapa Asia, termasuk dan Malaysia, pada kurun waktu Agustus hingga September memang menimbulkan kekhawatiran di global. Karena itu, kedua negara tersebut disarankan untuk mengambil beberapa langkah alternatif demi mendorong kemajuan dalam negeri.

Manajer Templetion Global Fund Bond, Dr. Hasentab, mengatakan dengan utang yang rendah dan konsumsi domestik yang cukup kuat, penghapusan subsidi BBM kemungkinan besar akan menguntungkan Indonesia. “Investasi infrastruktur, seperti pelabuhan, jalan, dan listrik, cukup membuat kemajuan di sana. Indonesia juga memiliki utang yang sangat sedikit,” ujar Hasentab.

“Selain itu, suku bunga yang ada cukup tinggi,” lanjutnya. “Hasil panen sekitar 8-8,5 persen, yang jauh lebih meningkat. Mata uang juga terlihat menarik.”

“Konsumsi domestik di Indonesia juga masih cukup kuat,” tambah Hasentab. “Kelemahan besar memang harga minyak yang tinggi, meski sekarang sedikit anjlok dan itu sedikit bermanfaat.”

Untuk kasus Malaysia, Hasentab mengungkapkan bahwa meski mengalami krisis, ekonomi Malaysia masih cukup kuat. “Pertumbuhan di negara itu memang lebih lambat daripada lima tahun yang lalu. Surplus transaksi juga turun sekitar 2,5 persen pada kuartal ketiga, tapi itu bukan berarti negara tersebut benar-benar krisis,” jelasnya.

“Bank sentral Malaysia telah melakukan yang sangat baik dalam mengelola masalah ini. Alih-alih mencoba ikut campur tangan di pasar dan membuang cadangan, yang memungkinkan mata uang mereka menyesuaikan kondisi global,” sambungnya. “Cadangan lebih dari cukup untuk menutupi semua kewajiban utang jangka pendek eksternal, sehingga mereka masih memiliki penyangga asuransi.”

Di sisi lain, meski Malaysia kemungkinan akan mengurangi pasokan ekspor ke China, mengingat melambatnya perekonomian di Negeri Tirai Bambu itu, namun neraca akan tetap surplus karena meningkatnya ekspor elektronik mereka. “Malaysia adalah salah satu eksportir elektronik yang cukup kompetitif. Jadi, mereka dapat mengekspor elektronik ke negara-negara lain di dunia, tak hanya China,” tandas Hasentab.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi di China akhir-akhir ini memang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi secara global, terutama di negara-negara berkembang. “Meski begitu, kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga Fed tidak bakal terjadi di negara-negara berkembang. Anda akan melihat kembali pertumbuhan di negara-negara ini,” tutup Hasentab.

Loading...