Indeks Harga Produsen AS Turun, Rupiah Melaju ke Zona Hijau di Pembukaan

rupiah - www.skyscanner.co.id

Jakarta dibuka 44 poin atau 0,33 persen ke posisi Rp 13.356 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (12/1). Kemarin, Kamis (11/1), nilai tukar mata uang Garuda berakhir 0,19 persen atau 25 poin menjadi Rp 13.400 per dolar AS usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.389 hingga Rp 13.436 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau merosot. Di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,1 persen menjadi 91,798 akibat yang buruk. Angka tersebut sekaligus berada di bawah level terendah (2/1) di angka 91,751, dan menempatkannya pada posisi terlemah sejak 20 September 2017.

Dolar AS merosot 0,3 persen untuk minggu ini karena tertekan oleh data yang dirilis pada Kamis yang menunjukkan bahwa indeks harga produksi Amerika Serikat turun untuk pertama kalinya dalam hampir 1-1/2 tahun di bulan Desember 2017. Buruknya data indeks harga produksi AS ini berpotensi untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang akan meningkat pada tahun 2018.

Sementara itu, euro menikmati dukungan yang solid setelah European Central Bank (ECB) mengisyaratkan bahwa pihaknya tengah bersiap untuk memangkas stimulus moneternya yang masif. Euro terpantau naik 0,3 persen pada $ 1,2062, mendekati level tertinggi hampir 4 bulan di $ 1,2089 yang ditetapkan pekan lalu. Euro mencatatkan kenaikan 0,3 persen dalam sepekan.

Menurut Ekonom David Sumual, rupiah kembali menguat karena ditopang oleh rencana China mengurangi pembelian obligasi AS. Di samping itu, sentimen keputusan Bank of Japan (BoJ) untuk mengurangi stimulus ternyata sampai saat ini masih terasa. “Kedua sentimen ini otomatis membuat dollar AS tertekan,” tutur David, seperti dilansir Kontan. Apalagi harga komoditas energi seperti minyak mentah sedang naik akibat produksi AS yang berkurang.

Senada, Analis Monex Future Investindo Putu Agus Pransuamitra memprediksi jika rupiah akan melanjutkan penguatannya. Pasalnya, data ekonomi AS diperkirakan tak terlalu sehingga berpotensi untuk menahan gerak USD.

Share this post

PinIt
Loading...
scroll to top