Imbas Profit Taking, Gerak Rupiah Stagnan di Awal Perdagangan

rupiah - www.viva.co.idrupiah - www.viva.co.id

Jakarta rupiah dibuka stagnan pada posisi Rp 13.438 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (10/1). Sebelumnya, mata uang Garuda berakhir melemah 0,07 persen atau 9 poin ke level Rp 13.438 per USD usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.409 hingga Rp 13.447 per AS.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Dolar AS diperdagangkan naik 0,20 persen menjadi 92,542 di akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB lantaran para tengah mempertimbangkan pernyataan dari sejumlah pejabat .

Pada Senin (8/1), Presiden Fed Atlanta, Raphael Bostic mengungkapkan jika harus terus menaikkan jangka pendek, namun mungkin pada kecepatan yang lebih lambat dari tahun lalu. Meski demikian, Presiden Fed of Cleveland, Loretta Mester menuturkan bahwa AS yang kuat dan tingkat pengangguran yang rendah memungkinkan adanya 4 kali kenaikan suku bunga pada 2018.

Berdasarkan laporan Departemen Tenaga Kerja AS, dari sektor ekonomi, jumlah lowongan pekerjaan mengalami sedikit perubahan pada 5,9 juta pada hari kerja terakhir November 2017, lebih rendah dari perkiraan . Sedangkan dari luar negeri, sentral Jepang, of Japan (BoJ) mengurangi ukuran penawaran pembelian kembali obligasinya sebesar 5,0 persen pada operasi pasar terakhirnya.

Kurs rupiah sendiri mulai terkoreksi karena terkena dampak profit taking. Menurut Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri, pelaku pasar saat ini memilih melakukan profit taking, terlebih karena dolar AS masih volatil karena data ekonomi yang dirilis akhir pekan lalu mengecewakan. “Data tenaga kerja yang buruk justru membuat nilai dollar AS di pasar valas volatil,” ujar Reny, seperti dilansir Kontan.

Sementara itu, Research & Analyst Monex Investindo Futures Faisyal menuturkan jika dolar AS cenderung menguat karena beberapa pejabat The Fed memberikan pernyataan bernada hawkish. Dolar AS pun dinilai mulai menguat lantaran pengurangan pajak korporasi saat ini mulai berjalan. Menurut Faisyal, dolar AS ke depannya akan kembali menguat lantaran The Fed berpotensi menaikkan suku bunga acuannya pada Maret 2018 mendatang.

Loading...