Imbas Aksi Profit Taking, Rupiah Terkoreksi di Rabu Pagi

Rupiah - www.kabarin.coRupiah - www.kabarin.co

Jakarta dibuka melemah sebesar 6 poin atau 0,04 persen ke level Rp 13.941 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (17/7). Sebelumnya, Selasa (16/7), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 15 poin atau 0,11 persen ke posisi Rp 13.935 per USD.

Indeks yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks naik 0,48 persen menjadi 97,4012 lantaran para pelaku pasar tengah mencerna data penjualan ritel yang ternyata lebih baik dari perkiraan.

Seperti dilansir Antara, Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan pada Selasa (16/7) bahwa penjualan ritel dan jasa-jasa makanan AS mengalami peningkatan sebesar 0,4 persen pada Juni dari bulan sebelumnya, yakni mencapai angka USD 519,9 miliar. Padahal sebelumnya menurut ekonom yang disurvei oleh MarketWatch, mereka hanya memprediksi kenaikan sebesar 0,1 persen.

“Penjualan ritel Juni jauh lebih kuat dari yang diharapkan meskipun ada revisi moderat. Hasilnya adalah kuartal ritel yang kuat menyusul kuartal pertama yang lesu,” ujar Kepala Ekonom FTN Financial, Chris Low, Rabu (17/7).

Sementara itu, koreksi rupiah setelah sepekan menguat ditengarai terjadi akibat aksi profit taking dari para pelaku pasar. Menurut Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan, biasanya saat terjadi penguatan yang signifikan, maka akan terjadi aksi ambil untung sehingga mengakibatkan rupiah melemah. Akan tetapi, Yudi memperkirakan jika rupiah pada perdagangan hari ini akan kembali menguat karena didukung oleh sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri.

Sentimen dalam negeri adalah dukungan data neraca dagang yang surplus USD 200 juta pada Juni 2019. Meredanya ketegangan politik dalam negeri dan penyampaian visi misi presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) pun jadi daya tarik untuk mengalirkan modal investasinya ke Tanah Air.

Yudi menambahkan, walaupun China masuk ke level terendah dalam 27 tahun, yakni 6,2 persen secara tahunan (year on year) pada kuartal II 2019, ekonomi China secara mingguan masih dinilai sesuai dengan harapan. “Hal tersebut menunjukkan adanya sinyal positif China masih sebagai pemimpin ekonomi terbesar di dan menambah daya kinerja yang positif terhadap rupiah,” ucap Yudi, seperti dilansir Kontan.

Loading...