Imbal Hasil Obligasi AS Turun, Rupiah Ditutup Menguat Tipis

Imbal hasil AS yang mengalami penurunan membuat harus melorot ke posisi terendah dan mampu dimanfaatkan untuk bergerak mulus di zona hijau. Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI menyelesaikan Kamis (28/12) ini dengan penguatan tipis sebesar 4 poin atau 0,03% ke level Rp13.557 per AS.

Sebelumnya, rupiah harus ditutup terdepresiasi 7 poin atau 0,05% di posisi Rp13.561 per dolar AS pada akhir dagang Rabu (27/12) kemarin. Kemudian, mata uang Garuda mampu melakukan rebound sebesar 3 poin atau 0,02% ke level Rp13.558 per dolar AS ketika membuka pagi tadi. Sepanjang transaksi hari ini, spot bergulir di kisaran Rp13.544 hingga Rp13.566 per dolar AS.

Dari pasar global, indeks dolar AS terpantau melemah terhadap sekeranjang mata uang utama dunia di hari Kamis, karena penurunan yang dialami imbal hasil obligasi AS. Mata uang Paman Sam tersebut terpantau turun ke level 92,842 pada pukul 08.48 waktu Singapura, atau posisi terendah sejak 1 Desember. Sepanjang tahun ini, greenback telah merosot 9,2%, menempatkannya di jalur penurunan tahunan terbesar sejak 2003 silam.

Imbal hasil obligasi AS bertahan pada level 2,425% di hari ini, setelah sebelumnya sempat turun dari level tertinggi sembilan bulan di titik 2,504% pada minggu lalu. Menurut pasar global senior di Sumitomo Mitsui Banking Corporation di Singapura, Satoshi Okagawa, imbal hasil obligasi telah mundur dari puncaknya yang mengakibatkan dolar AS diperdagangkan dengan ‘nada lembut’.

Sementara itu, analis riset makro untuk Aberdeen Standard Investments di Singapura, Lee Jin Yang, menilai penurunan yang dialami greenback pada minggu ini mungkin sebagian mencerminkan jenis reaksi ‘sell-the-fact’ setelah Presiden Donald Trump mengesahkan RUU pajak. “Pasar tidak perlu terlalu banyak membaca aktivitas minggu ini, mengingat kondisi perdagangan akhir tahun yang tipis,” ujarnya.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.560 per dolar AS, 2 poin atau 0,01% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.562 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia bergerak naik versus greenback, dengan penguatan tertinggi sebesar 0,54% dialami baht Thailand, disusul dolar Taiwan yang melonjak 0,38%.

Share this post

PinIt
Loading...
scroll to top