Harga Singkong di Lampung Anjlok, Karang Taruna Lakukan Uji Coba Tanam Jagung

Singkong - rayapos.comSingkong - rayapos.com

Sebagai negara dengan sumber daya alam yang memadai, Indonesia dinilai kurang bisa memanfaatkan kekayaan alam dengan baik. Terbukti dari banyaknya beberapa hasil bumi seperti buah, sayuran dan umbi umbian yang lainnya, termasuk singkong.

Data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik mencatat, pada periode Januari hingga April 2017, jumlah impor singkong yang masuk ke Indonesia mencapai 1.200 ton. Enggartiasto Lukito, Menteri berdalih bahwa impor singkong yang cukup tinggi ini dilakukan oleh pelaku usaha tanpa embel embel dan campur tangan .

“Singkong bukanlah barang yang impornya diatur oleh pemerintah. Dengan begitu impornya tidak perlu izin dari Kementerian Perdagangan,” tuturnya.

Ia mengaku tak tahu persis mengapa industri masih mengimpor singkong. Ia menduga hal tersebut lantaran pasokan singkong dalam negeri kurang memenuhi kebutuhan di . Kemungkinan lain adalah hal itu dipengaruhi jual singkong yang rendah yang menyebabkan enggan untuk menanam singkong.

Anjloknya harga singkong dalam negeri juga diyakini sebagai pemicu kemiskinan di wilayah Lampung. Harga singkong sempat jatuh hingga Rp 350 per kilogram, dari harga normal Rp 1.200 per kilogram. Hal ini dianggap krisis, karena produksi singkong yang melimpah tidak dibarengi dengan harga yang diinginkan.

“Ternyata harga singkong petani yang , membuat angka kemiskinan di Lampung terkoreksi tajam,” kata Gubernur Lampung, M Ridho Ficardo.

Hal senada juga disampaikan oleh Yeane Irmaningrum, Kepala Badan Pusat Statistik Lampung. Ia mengatakan bahwa salah satu pengaruh negatif pertumbuhan ekonomi di Lampung adalah anjloknya harga singkong, sehingga menimbulkan kerugian bagi petani sebesar Rp 3,75 triliun.

Berangkat dari keprihatinannya terhadap petani singkong yang mengalami kondisi krisis, Sayuti, Ketua Karang Taruna Kecamatan Anaktuha, Lampung Tengah, mencoba melakukan uji coba penanaman jagung yang dilakukan di Kampung Negarabumi Udik dengan menggunakan lahan seluas 2 hektare.

uji coba tersebut dilakukan Sayuti dengan menggandeng PT Bisi Internasional, dan hasilnya sangat memuaskan.

“Biasanya dalam seperempat hektare, hanya menghasilkan uang Rp 3 juta, melalui uji tanam ini kita bisa mencapai Rp7 juta lebih,“ jelas Sayuti.

Pencapaian yang maksimal tersebut diakui Sayuti bukan hal yang semata mata ingin ia tularkan kepada petani, namun lebih kepada mengajak serta upaya merubah mindset petani agar tidak hanya mengandalkan tanaman singkong saja. Apalagi tanaman jagung harganya lebih stabil dengan harga tanaman singkong.

Selain itu, dari uji coba penanaman jagung yang ia lakukan, membuktikan bahwa Karang Taruna juga dapat terlibat aktif di tengah masyarakat. Dengan cara melihat kondisi yang dialami oleh masyarakat.

“Karang Taruna harus bisa memaksimalkan semua potensi yang ada di Kampung. Salah satunya yang telah dilakukan teman teman Karang Taruna Anaktuha dengan memaksimalkan potensi pertanian berupa jagung yang memiliki nilai jual tinggi,“ pungkasnya.

Loading...