Pupuk Bersubsidi Langka, Petani Terpaksa Beli Pupuk Phonska Non Subsidi dengan Harga Mahal

Memberi Pupuk Tanaman - www.gardeningknowhow.comMemberi Pupuk Tanaman - www.gardeningknowhow.com

Pada tahun 2021 ini bukan hanya jatah pupuk bersubsidi saja yang dipangkas, tetapi Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi juga mengalami kenaikan. Alhasil, beberapa terpaksa membeli pupuk non subsidi seperti urea, ZA, SP-36, NPK Phonska, dan juga Petroganik dengan harga yang tentunya lebih mahal dibanding pupuk bersubsidi.

Menurut Kasi Bapokting (Bahan Pokok Penting) Dinas Jombang, Sri Endang Yulistiowati, HET pupuk bersubsidi tahun ini memang naik dari tahun 2020 lalu. “Iya benar, ada kenaikan. Sesuai dengan SK Permentan,” kata Sri, Sabtu (2/1), seperti dilansir Kabarjombang.

Dalam Pertanian No 49 Tahun 2020 pada tanggal 30 Desember 2020, HET pupuk bersubsidi untuk Urea per kg Rp2.250, per karung Urea Rp112.500, ZA per kg Rp1.700 dan untuk per karungnya Rp85.000, SP-36 per kilogram Rp2.400 sedangkan per karung Rp120.000.

Lalu, pupuk NPK Phonska per kilo dibanderol Rp2.300 dan per karung Rp115.000, Petroganik harga per kg Rp800 dan per karung Rp 32.000. Pupuk bersubsidi dari pemerintah itu diperuntukkan petani yang tergabung dalam tani serta terdaftar dalam e-RDKK (elektronik rencana definitif tani).

Meski harga pupuk bersubsidi naik, rupanya harga pupuk non subsidi di Kabupaten Jombang kabarnya relatif tetap. Sebagai contoh, harga pupuk jenis NPK Rp12 ribu per kg atau Rp420 ribu per karung. “Perkiraan harga masih tetap, naik turunnya harga tergantung pabrik. Seperti pupuk ZA ini ada yang Rp175 ribu, ada yang Rp200 ribu, semua kebijakan pabrik, kalau stok banyak ya murah, stok sedikit ya mahal,” kata Edi, pegawai di salah satu kios pupuk.

Sedangkan di Kabupaten Nagekeo, NTT, ketersediaan pupuk bersubsidi ternyata cukup langka. Oleh sebab itu, para petani terpaksa membeli pupuk non subsidi yang harganya terpaut jauh lebih mahal. “Kita sudah sejak beberapa bulan belakangan beralih ke pupuk non subsidi yang harganya lebih mahal dari pupuk bersubsidi. Karena cukup sulit untuk dapatkan pupuk bersubsidi. Diantaranya pupuk urea, KCL, NPK Phonska hingga pupuk organik,” tutur Ketua P3A KM 1,5 Kiri, Osan Ari Asso di Desa Aeramo

Osan menjelaskan, NPK Phonska non subsidi per karung (25 kg) dijual mencapai Rp190 ribu, sedangkan urea non subsidi harganya mencapai Rp180 ribu. “Jadi karena harganya cukup beda jauh dengan pupuk bersubsidi, kita terpaksa membatasi pembelian dan penggunaan pupuk saat ini. Karena kita masih butuh obat-obatan lainnya untuk mencegah hama lainnya,” tandasnya.

Loading...