Harga per Kilo-nya Terjun Bebas, Pembuat Gula Merah dan Petani Tebu Resah

Gula Merah - necturajuice.comGula Merah - necturajuice.com

Harga gula merah per 1 kg nya mengalami penurunan yang cukup drastis akhir-akhir ini. Hal ini terjadi karena beberapa , mulai dari yang menurun sampai adanya impor gula merah. Kondisi ini jelas membawa kerugian bagi para pembuatnya.

Seperti yang terjadi di Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak. Turunnya harga membuat pembuat gula merah di daerah tersebut cukup terpukul. Pada 2016 lalu, harga gula merah terbaru dihargai Rp 8.700 per kg nya. Untuk tahun ini, pengepul dan pembeli hanya bisa menjual sampai harga Rp 6.700 per kg nya.

Hal ini merupakan imbas dari penurunan permintaan para pengepul yang sudah menjadi . Jika satu pembuat gula merah rata-rata bisa menjual 25 ton per minggu, sekarang maksimal bisa menjual 10-15 ton per minggu.

Berkaitan dengan fenomena tersebut, Ibrahim, ketua perajin gula merah di Desa Sukolilo angkat bicara.

“Harganya turun cukup banyak, dari hasil hampir tidak ada keuntungannya. Seperti harga saat ini, per kilogram gula merah hanya Rp 6.700. Padahal, untuk bahan baku, seperti tebu, per kuintalnya sekarang rata-rata Rp 55.000. Satu kuintal itu menjadi 10 kilogram gula,” ujarnya.

Ibrahim kemudian menambahkan jika satu kuintal tebu bisa menjadi 10 kilogram gula merah, perajin hanya mendapatkan 67 ribu. Dia mengasumsikan, jika hasil jadi tersebut dikurangi bahan baku Rp 55.000, hanya menyisakan sekitar Rp 12.000. Angka itu masih harus dikurangi untuk membayar pekerja Rp 4.500 per kuintal per orang.

Sementara itu, dibutuhkan dua sampai empat pekerja untuk pembuatan gula merah. “Hasil penjualan gula merah hanya busa digunakan untuk memenuhi biaya produksi”, tambah Ibrahim.

Dengan perhitungan seperti itu, petani hanya mendapatkan untung dari ampas tebu, itu pun juga akan mengurangi biaya produksi.

Penurunan harga juga dialami pembuat gula merah di Desa Longos, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep. Dari harga sebelumnya Rp 12.500 turun menjadi 10.500 per kg nya.

Momen bulan Ramadan nyatanya tidak mendongkrak harga gula merah. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di bulan puasa tahun lalu.

Tawiyah, salah seorang penghasil gula merah di Sumenep menyatakan, “Sekarang harganya Rp 10.000 per kg, kalau yang bagus Rp 11.000 per kg, padahal sebelumnya kalau masuk bulan puasa, gula merah makin mahal”, ujarnya.

Pernyataan tersebut diamini oleh salah seorang tengkulak desa setempat, “Sebelum bulan puasa harga gula merah saya mengambil dari petani Rp 11.500, sementara sekarang Rp 10.500 per kg,” jelasnya.

Kondisi ini diperparah karena ulah tengkulak nakal yang menjual harga tidak sesuai dengan pasaran. Ia pun menambahkan, “ Biasanya gula yang mereka itu gula untuk gudang. Kadang gula yang ditaruh selama berapa bulan gitu.”

Masyarakat berharap akan ada perbaikan untuk kondisi ini, sehingga harga gula merah dapat kembali naik. Jika tidak, petani dirugikan karena menghasilkan gula merah itu tidaklah mudah.

“Kasian pada para petani, ini sebentar lagi gula makin banyak, harganya malah turun, bahkan sekarang gula di pasaran sudah tidak selaris sebelum puasa,” ujar tengkulak yang tidak mau disebutkan namanya tersebut.

Selain faktor di atas, adanya impor gula merah otomatis memengaruhi harganya juga. Di Tulungagung misalnya, harga gula merah dijual dengan kisaran harga Rp 7.000 per kg. Harga tersebut termasuk rendah dibanding sebelumnya yang mencapai Rp 11.000 per kg.

Melemahnya harga gula merah juga diiringi dengan banyaknya gula merah yang gulung tikar. Hal ini disebabkan biaya operasional dengan harga jual tidak imbang.

Pengusaha gula merah di daerah setempat pun ikut berkomentar, “ Sebelumnya juga pernah mengalami penurunan harga, tapi tahun ini luar biasa turunnya. Selain itu banyak produksi yang tidak nutut bahan baku dengan harga jual. Jadi, banyak yang berhenti Tekor,”kata Farid.

Dampak impor sehingga mengakibatkan harga gula merah turun terjadi tiga tahun lalu, saat tebu dari petani habis diolah dan harga gula naik. Namun, saat ini tebu melimpah tapi harga murah. Hal ini dipicu dampak impor gula, sehingga tebu tidak bisa terserap.

Saat ditanya harapannya kepada pemerintah, ia berharap tidak buru-buru impor apabila sudah memasuki musim . “Kalau mungkin habis kemudian diprediksi gulanya kurang, baru impor. Jangan awal musim , sudah impor. Petani yang semestinya menikmati keuntungan harga pada awal jadi tidak bisa mengikuti karena harga tebu turun”, tambah Farid.

Loading...