Harga Murah, Aluminium Foil Cup Dijual dalam Berbagai Bentuk dan Ukuran

Aluminium foil cup (sumber: diytrade.com)Aluminium foil cup (sumber: diytrade.com)

Aluminium foil memang umum digunakan sebagai wadah atau pembungkus makanan supaya panas dari suatu makanan tetap terjaga ketika disajikan. Alumunium foil pun kini bentuknya semakin beragam, ada yang berupa lembaran, roll, tray, bulat, persegi panjang, kotak, mangkuk, atau bahkan cup yang biasanya dijadikan wadah untuk atau beragam lezat. Adapun aluminium foil cup di cukup variatif, tergantung dan ukurannya.

Aluminium foil cup umumnya dijual secara grosir isi beberapa pcs sekaligus. Adapun untuk aluminium foil cup kecil dengan kapasitas sekitar 60 ml cukup murah, yakni Rp 600 ribuan per pcs untuk pembelian minimal 50 buah. Lalu yang bentuknya oval dibanderol seharga Rp 1.000, bentuk hati Rp 2.300 per pcs, bentuk mirip loyang bulat Rp 3.200 per biji, dan ada pula yang disertai dengan lid atau tutup seharga Rp 2.700 per pcs.

Sebagai informasi, aluminium foil sendiri mulai diperkenalkan dari tahun 1910 silam oleh Dr. Lauber, Neher & Cie di Swiss. Sejak itu banyak perubahan dalam pemakaian aluminium foil. Dari yang bermula sebagai pembungkus permen, aluminium foil mulai digunakan secara luas untuk memasak hingga memicu kekhawatiran oleh para ahli. Pasalnya, berdasarkan beberapa , penggunaan aluminium untuk memasak bisa membuat zat-zat kimianya larut ke dalam makanan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tubuh manusia dapat mengeluarkan sejumlah kecil aluminium dengan efektif, sehingga apabila seseorang sampai menelan aluminium 40 mg per kilogram berat badan masih dianggap aman setiap hari. Yang menjadi masalah adalah sebagian besar orang menelan lebih banyak dari jumlah tersebut.

Menurut Ghada Bassioni, ahli kimia dari Ain Shams University, tingkat keasaman makanan akan menyebabkan makin banyak aluminium yang terserap makanan. “Seberapa buruk efek alumunium bagi kesehatan dipengaruhi oleh status kesehatan secara umum dan seberapa baik tubuh kita mampu mengatasi akumulasinya sesuai dosis yang dianggap aman oleh WHO,” jelas Bassioni, seperti dilansir Tribunnews.

Jika jumlah yang tertelan berlebihan, maka seseorang berisiko mengalami beberapa masalah kesehatan seperti penurunan jumlah pertumbuhan sel. Bahkan paparan yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada otak hingga memicu penyakit Alzheimer.

Loading...