Harga Minyak Cenderung Melemah, Rupiah Sulit Bangkit

Rupiah diprediksi masih tetap loyo dan sulit bangkit pada perdagangan Kamis (25/8) ini. Laju indeks yang terus jelang pertemuan akhir pekan ini serta minyak dunia yang cenderung membuat mata uang Garuda sukar keluar dari tekanan.

Seperti dilaporkan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan pelemahan tipis 2 poin atau 0,02% di level Rp13.254 per AS. Kemudian, pada pukul 08.19 WIB, spot kembali 14 poin atau 0,11% ke posisi Rp13.266 per dolar AS. Sementara itu, laju indeks dolar AS terpantau berlanjut menguat 0,011 poin atau 0,01% ke level 94,797 pada pembukaan pagi ini.

“Laju dolar AS yang terus menguat jelang pertemuan The Fed dan harga minyak dunia yang melemah membuat rupiah sukar untuk berbalik menguat,” terang Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, . “Pelemahan rupiah juga kemungkinan masih terjadi di akhir pekan ketika diumumkan data-data ekonomi penting, salah satunya PDB kuartal II/2016 AS.”

Harga minyak dunia mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober memang terpantau turun ke level 46,77 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara, minyak kontrak Oktober ditutup turun 0,91 dolar AS menjadi 49,05 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara itu, menurut Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Agus Chandra, pasar yang merespon negatif penerapan BI 7-days reverse repo rate menyebabkan rupiah lebih banyak beredar sehingga rentan melemah. “Hari ini, rupiah kemungkinan melemah di rantang Rp13.160 hingga Rp13.300 per dolar AS,” ujarnya.

Loading...