Harga Lebih Murah, Smartphone China ‘Gulung’ iPhone di Asia Tenggara

Spg Hp - rudipakenton.blogspot.co.id

BANGKOK – iPhone buatan Apple, dan juga Galaxy dari Samsung, telah memimpin smartphone global dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ceritanya berbeda di yang menempatkan cerdas buatan China sebagai yang lebih laris. Pasalnya, smartphone asal Negeri Tirai Bambu menawarkan apa yang tidak bisa dimiliki Apple, yaitu yang terjangkau.

Beberapa waktu lalu, Apple telah meluncurkan iPhone X-nya. Produk ini memang mendapat atensi bagus di seluruh dunia. Namun, dengan harga sekitar 999 dolar AS, iPhone X berarti menjadi handset kelas premium yang harus berjuang lebih keras untuk merebut pasar Asia Tenggara yang rata-rata dihuni masyarakat kelas menengah.

Sebaliknya bagi vendor asal China. Menurut Nikkei, satu dari lima smartphone yang dikirim ke kawasan ASEAN berasal dari Negeri Tirai Bambu. Di pasar Thailand, -merek asal China seperti Oppo, Vivo, dan Huawei, menyumbang sekitar setengah dari 70 handset yang berhasil dijual sebuah smartphone kecil setiap bulannya.

“Pergeseran permintaan pelanggan ke smartphone keluaran China telah jauh lebih cepat dari yang bisa dibayangkan,” ujar salah satu pemilik toko smartphone di MBK Center, Suwimol Khongsiriphaiboon. “Oppo dan Vivo sekarang menjadi merek yang sangat populer, berkat periklanan yang efektif dengan menggunakan aktor dan aktris ternama Thailand.”

Maraknya smartphone asal China tidak terbatas di Thailand. Di Vietnam, pangsa pasar Oppo telah melampaui 20 persen, atau kedua setelah produk Samsung dari Korea Selatan. Konsumen di pasar negara berkembang, dengan anggaran cukup terbatas untuk membeli smartphone baru, semakin melihat merek-merek asal China ini sebagai yang menarik.

Kenaikan pesat merek-merek asal China telah mengubah lanskap kompetitif pasar smartphone Asia Tenggara secara radikal. Menurut perusahaan riset IDC, total pengiriman smartphone asal Negeri Panda di enam negara berkembang di Asia Tenggara, termasuk Thailand dan Indonesia, meningkat 4,3 persen pada tahun ini menjadi 101,3 juta unit.

Samsung memang masih menjadi pemain top di Asia Tenggara , dengan pangsa pasar 23 persen. Tetapi, pemain kedua dan keempat adalah Oppo dan Huawei. Bahkan, pangsa pasar gabungan Oppo, Huawei, dan Vivo mencapai 21 persen, mendekati Samsung. “Semua merek (China) ini tidak kalah dengan Samsung atau Apple. Mereka telah berhasil mendorong brand mereka naik ke pasar,” kata analis senior pasar di IDC Asia/Pasifik, Jensen Ooi.

Untuk memperluas kekuatan mereka, perusahaan smartphone China telah mengembangkan strategi pemasaran yang disesuaikan dengan konsumen Asia Tenggara. Mark Xing, chief executive Thai Oppo, mengatakan strategi periklanan perusahaannya berpusat pada kualitas kamera pada perangkat Oppo dan terutama menargetkan konsumen wanita yang’ memikat diri sendiri’ dalam kelompok usia 15 sampai 30 tahun. “Keinginan mereka adalah tampil lebih cantik dan menawan (di foto),” kata Xing.

Sementara, di Indonesia, berdasarkan perubahan peraturan baru-baru ini, smartphone yang dijual di Tanah Air harus tunduk pada persyaratan konten sebesar 30 persen. Banyak pembuat smartphone asing yang kemudian ‘menghapus’ persyaratan tersebut dengan memercayakan produksi kepada pabrikan Indonesia. Samsung memenuhi peraturan yang diusulkan berkat jalur perakitan smartphone yang baru dipasang di pabrik alat rumah di Jawa Barat.

Adapun Apple, kadang-kadang terpaksa menunda peluncuran model iPhone baru di Indonesia karena kegagalannya memenuhi kebutuhan konten lokal. IPhone 6s, yang mulai dijual pada bulan September 2015 di AS, Jepang, dan tempat lain, tidak dirilis di Indonesia sampai tahun ini. Untuk menghindari kemunduran serupa, perusahaan berencana membuka pusat penelitian dan pengembangan perangkat lunak di Indonesia, mungkin di bulan Oktober.

Sayangnya, tampaknya tidak mungkin iPhone terbaru akan memikat konsumen Indonesia dan konsumen Asia Tenggara lainnya yang telah ‘memeluk’ handset China. Model iPhone anyar yang baru saja diluncurkan di California masih mengindikasikan bahwa Apple bertekad untuk terus mendorong kecanggihan teknologi. Sayangnya, harga yang lumayan mahal akan membuat perusahaan kesulitan untuk ‘mencakar’ kembali pasar di seluruh wilayah.

Loading...