Harga Komoditas Dunia Naik, Rupiah Rebound di Awal Dagang

rupiah-menguat.7

mampu membukukan rebound pada awal Selasa (7/11) ini, disokong kenaikan sejumlah , salah satunya mentah . Seperti dipaparkan Index, mata uang Garuda membuka hari ini dengan 29 poin atau 0,21% ke level Rp13.495 per AS. Sebelumnya, spot berakhir melemah 26 poin atau 0,19% di posisi Rp13.524 per AS pada perdagangan Senin (6/11) kemarin.

Harga minyak mentah naik ke level tertinggi sejak Juli 2015 pada penutupan Senin atau Selasa pagi WIB, ditopang oleh kemampuan Putra Mahkota Arab Saudi dalam memberantas korupsi. Minyak West Intermediate (WTI) kontrak Desember melonjak 1,71 dolar AS per barel atau 3,1% menuju level 57,35 dolar AS per barel. Sementara, mintak Brent untuk pengiriman Januari naik 2,20 dolar AS per barel ke posisi 64,27 dolar AS per barel di ICE Futures Europe Exchange.

Hanya dalam hitungan jam setelah didirikan, lembaga antikorupsi Arab Saudi yang dipimpin Putra Mahkota, Mohammed bin Salman, melakukan penangkapan besar-besaran. Sebanyak sebelas pangeran, empat menteri, dan belasan mantan menteri ditahan pada Sabtu (4/11) malam waktu setempat, salah satunya Pangeran Alwaleed bin Talal, yang namanya masuk daftar orang terkaya di dunia versi Forbes.

“Penangkapan para petinggi Arab Saudi tersebut meningkatkan ‘momok ketidakstabilan’ di Kerajaan Arab Saudi,” ujar partner di Again Capital LLC, John Kilduff, seperti dikutip Bloomberg. “Ini adalah putaran lain dari hal yang mengejutkan yang dapat meningkatkan pasar minyak mentah yang saat ini sedang tegang.”

Kenaikan harga minyak mentah dunia berimbas pada penguatan harga komoditas batubara, selain laporan mengenai ancaman gangguan suplai di Afrika Selatan. Pada perdagangan Senin kemarin, harga batubara untuk kontrak Oktober 2018, kontrak paling aktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup menguat 1,60 poin atau 1,94% menuju level 84 dolar AS per metrik ton.

Para penambang di Afrika Selatan, salah satu negara penghasil sekaligus pengekspor batubara terbesar di dunia, diberitakan mengancam untuk berhenti bekerja karena tidak adanya kesepakatan mengenai kondisi kerja dengan atasan mereka. Aksi pemogokan tersebut, seperti dituturkan Energi Danmark, dapat menyebabkan suplai global terganggu secara signifikan.

Loading...