Harga Batu Bara Melonjak Drastis

batu-bara

Naiknya batu bara telah menjadi sebuah berkah yang mengejutkan bagi tambang batu bara tahun ini. Sebagian dari mereka menganggap jika hal ini tidak akan berlangsung lama. Kenaikan ini didorong oleh perubahan kebijakan yang menahan produksi bukan karena kenaikan permintaan.

Batu bara kokas yang digunakan sebagai bahan membuat baja hampir 3 kali lipat tahun ini, sementara itu termal yang digunakan untuk menghasilkan listrik 56%. Para penambang besar seperti BHP Billiton Ltd dan Teck Resources Ltd tetap waspada terhadap berapa lama rally akan bertahan. Sedangkan Glencore Plc berencana memulai kembali tambang kecil dan tidak mengubah .

China mulai melonggarkan kebijakan dengan mengurangi output sekitar 10% tahun ini. Komisi dan Reformasi Nasional mengizinkan beberapa perusahaan penambang besar untuk meningkatkan produksi agar meredam harga.

“Harga reli ini menarik bagi banyak orang yang telah mendapat aset tertutup dan dekat dengan mereka,” ujar Tom Price, analis komoditas di Morgan Stanley, London. “Tapi mereka akan gugup tentang kelanjutan rally. Mereka mungkin sangat curiga tentang apa yang menyebabkan rally karena semua bergantung pada perubahan kebijakan di China.”

Rebound batu bara muncul usai terlalu banyak pasokan mengirim dengan harga murah. Harga patokan batu bara hard coking coal rata-rata $ 133 per metrik ton pada kuartal ketiga dan $ 218,19 per ton pada hari Selasa (11/10), tertinggi dalam data Indeks Baja sejak Januari 2013. Harga termal dari Newcastle diperdagangkan pada $ 79,10 per ton pada Senin (10/10).

BHP, pemasok terbesar batu bara kokas bulan lalu mengatakan jika keuntungan mungkin tidak akan bertahan dalam jangka panjang. Indonesia sebagai eksportir terbesar mengirimkan di bawah puncaknya dan ada potensi sekitar 70 juta ton, 8% dari ekspor global untuk kembali ke .

batu bara sendiri naik 63% di London tahun ini. Sementara itu PT Adaro Energy, operator tambang batu bara terbesar di Indonesia, Glencore naik lebih dari dua kali lipat tahun ini. “China tampaknya sangat bersedia untuk menarik kembali produksi untuk mengontrol harga ketimbang hanya mengikuti aturan biasa di mana produsen marjinal akan kalah,” ujar Ben Davis, analis Liberum Capital Ltd, London.

Loading...