Go-Jek Temukan Pilar Bisnis Baru dalam Layanan Go-Food

GO-FOOD - www.go-jek.comGO-FOOD - www.go-jek.com

JAKARTA – Go-Food muncul sebagai pilar baru bagi aplikasi pemesanan antar-jemput secara online, Go-Jek. Sejak dirilis pada bulan April 2015, Go-Food dengan cepat mengambil alih posisi pemimpin , berkembang ke kota lapis kedua, dan bermitra dengan rantai populer. Go-Food pun menjadi solusi Go-Jek ketika persaingan dengan aplikasi sejenis, seperti Uber dan Grab, semakin ketat.

Go-Food mencantumkan sekitar 100.000 , mulai warung sate lokal hingga rantai cepat saji dan restoran sushi mahal. Layanan ini melayani orang-orang yang enggan melakukan perjalanan jauh untuk bisa bersantap idaman. dapat memesan ke restoran dengan jarak sejauh 25 km, dan tidak ada harga minimum.

Fitur semacam ini memang terlihat mahal untuk restoran yang menjalankan layanan take out, dan membutuhkan waktu untuk membangunnya. Namun, Go-Jek, yang dimulai sebagai layanan ojek, membuat ini menjadi mudah dengan memanfaatkan 300 ribu pengemudi mereka. Karena orang tidak bergerak saat mereka makan, Go-Jek secara dinamis mengalokasikan driver di seluruh rangkaian layanan aplikasi sesuai dengan permintaan.

Ketika pesanan Go-Food melonjak, terutama saat makan siang dan makan malam, perusahaan pun memberikan tambahan ‘poin bonus’, yang kemudian dapat dikonversi menjadi uang tunai untuk pengemudi. Sementara, ketika situasi sedang tidak sibuk, para driver kemudian ‘dibujuk’ untuk mengantarkan penumpang, makanan, dan paket.

Perusahaan sendiri mengatakan bahwa Go-Food memiliki 15 juta pesanan di tahun pertamanya. Angka ini sudah melampaui layanan pengiriman makanan lainnya di Asia Tenggara dan India, namun masih lebih kecil dari pasar China yang mengambil jutaan pesanan setiap hari. Untuk mengejar ketertinggalan, Go-Food pun berencana melakukan ekspansi ke berbagai wilayah, yang saat ini sudah tersedia di 50 kota.

“Pesaing tidak akan bisa menandingi skala dan jangkauan Go-Jek. Perusahaan bergerak lebih jauh ke depan dalam keyakinan bahwa pengguna pada akhirnya akan memesan semua jenis pengiriman melalui aplikasi,” ujar Kepala Go-Food, Nadia Tenggara, seperti dikutip dai Nikkei. “Makanan adalah kait untuk kenyamanan pengiriman online, tetapi kami pasti bisa memperluasnya.”

Go-Jek sendiri sudah memiliki Go-Mart, sebuah layanan belanja bahan makanan, dan baru-baru ini mereka meluncurkan Go-Shop, yang memungkinkan pengguna meminta driver untuk membeli barang yang dijual di toko dengan mengetik nama produk dan perkiraan harganya. Ini juga bisa menjadi tanda peringatan bagi pemain e-commerce lainnya.

Namun, di sisi lain, dengan lebih dari 15 layanan berbeda, operasi Go-Jek menjadi semakin kompleks. Hal ini bisa menimbulkan beberapa masalah utama, seperti kekurangan dalam kodenya yang mengungkapkan informasi pribadi pengguna, selain akun Go-Pay yang dilaporkan sedang diretas. Seiring bisnis pengiriman makanan yang terus tumbuh, maka juga akan berpotensi menimbulkan risiko, seperti insiden ‘Go-Food terror’ baru-baru ini.

Loading...