Akhir Senin, Rupiah Melemah Tipis Setelah Bergerak Terbatas

Rupiah melemah senin (18/11)Rupiah melemah senin (18/11) sore - okezone.com

JAKARTA – Setelah bergerak dalam kisaran yang relatif sempit, akhirnya harus memungkasi Senin (18/11) di zona merah ketika indeks cenderung turun menjelang risalah The Fed. Menurut pantauan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah tipis 2 poin atau 0,01% ke level Rp14.079 per .

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.075 per dolar AS, terdepresiasi 6 poin atau 0,04% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.069 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia variatif terhadap greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,3% dialami won Korea Selatan dan pelemahan terdalam sebesar 0,08% menghampiri yuan offshore .

Dari pasar , indeks dolar AS sedikit turun pada hari Senin, karena pelaku pasar melihat apakah Washington dan Beijing dapat segera menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang mereka yang telah menjadi hambatan pada pertumbuhan ekonomi . Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,0700 poin atau 0,07% ke level 97,929 pada pukul 15.47 WIB.

Dilansir CNBC, media pemerintah China, Xinhua, Minggu (17/11) kemarin melaporkan bahwa kedua negara melakukan ‘pembicaraan konstruktif’ mengenai perdagangan melalui telepon tingkat tinggi pada hari Sabtu (16/11), tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. Dolar AS sebelumnya sempat menguat seiring harapan kesepakatan perdagangan AS-China yang melemahkan aset berisiko seperti yen Jepang.

Kesepakatan ‘fase satu’ pada awalnya diharapkan akan ditandatangani di sela-sela KTT negara-negara Asia-Pasifik yang dijadwalkan akhir pekan lalu sebelum Chili mengundurkan diri dari tuan rumah karena kerusuhan domestik. Perang antara dan China sendiri telah berdampak pada sektor manufaktur dunia.

Saat ini, investor menantikan rilis risalah rapat kebijakan moneter (FOMC meeting) pada Rabu (20/11). Dalam risalah pertemuan kebijakan terkini yang berakhir pada 30 Oktober 2019, pejabat The Fed kembali memangkas sebesar 25 basis poin untuk ketiga kalinya tahun ini dan mengisyaratkan jeda pemotongan lebih lanjut kecuali jika prospek ekonomi berubah.

“Risalah rapat kemungkinan akan menegaskan bahwa ekonomi AS ‘solid’ dan bahwa pengaturan kebijakan moneter saat ini ‘tepat’, sehingga akan mendukung pergerakan dolar AS,” kata analis mata uang di Commonwealth Bank of Australia, Joseph Capurso. “Namun, laporan penjualan ritel AS yang menunjukkan ekonomi belum sepenuhnya kuat dapat menyebabkan evaluasi ulang atas prospeknya oleh FOMC.”

Loading...