Gandeng Biduan Via Vallen, Berapa Tarif Manggung OM Sera?

via vallen om sera

Musik dangdut masih menjadi magnet untuk menarik kunjungan masyarakat ke berbagai objek atau suatu kegiatan. Di Indonesia sendiri, saat ini sudah hadir berbagai macam grup musik dangdut (lebih populer dengan sebutan Orkes Melayu atau OM), salah satunya OM Sera. Diperkuat dangdut yang sedang naik daun, Via Vallen, grup musik asal Gresik ini disebut memiliki mencapai puluhan juta rupiah untuk sekali manggung.

Dalam gelaran Jateng Fair 2017 yang rencananya diadakan pada tanggal 10 Agustus sampai10 September mendatang, OM Sera bersama penyanyi dangdut Via Vallen bakal menggoyang acara tahunan Provinsi Jawa Tengah tersebut. OM Sera dan Via Vallen dijadwalkan akan satu panggung bersama artis-artis dangdut lokal lainnya, seperti OM Monata dan OM New Pantura.

Sebelumnya, pada awal Juli 2017 lalu, OM Sera bersama Via Vallen sudah menggebrak ribuan Sera-Mania dan Vyanisti di objek wisata NDayu Park, di Saradan, Kecamatan Karangmalang, Sragen. Pentas di penghujung libur 2017 ini membuat objek wisata yang dimiliki keluarga Untung Wiyono (eks Bupati Sragen) itu penuh sesak.

“Antusiasme warga Sragen dan sekitarnya terhadap pertunjukan yang kami gelar ternyata sangat besar dengan tiket masuk terjual sekitar 9.000 lembar atau di atas target,” ujar Supervisor Marketing Ndayu Park, Krestiyanto Dwinugroho. “Kami juga bersyukur bahwa pentas berlangsung aman dan tertib, tidak ada gangguan.”

Selain manggung di berbagai objek wisata dan pameran, OM Sera juga kerap diundang untuk mengisi acara-acara politik, misalnya kampanye 2014 lalu. Panen tawaran manggung di saat menurut manajemen OM Sera adalah sesuatu yang lumrah. Bahkan, lima tahun sebelumnya, grup musik ini kewalahan memenuhi semua permintaan dan harus berpindah-pindah lokasi manggung dalam sehari.

“Tarif manggung ketika pemilu sama seperti biasa, bahkan terkadang kami menerima meski yang ditawarkan lebih rendah,” ujar salah satu pengurus manajemen OM Sera bernama Harifin. “Pasalnya, manajemen tidak memanfaatkan momentum pemilu tersebut sebagai aji mumpung dengan mematok yang tinggi meski harus kewalahan menerima orderan.”