Fenomena Misterius: Ekonomi Solid, Inflasi Justru Rendah

Ekonomi Solid - ekbis.sindonews.com

TOKYO – Fenomena ekonomi yang berkembang akhir-akhir ini dan membuat penasaran para pengamat adalah yang semakin kuat namun yang tetap rendah. Fenomena tersebut muncul hampir merata di banyak , sekaligus bisa berimplikasi besar bagi sentral masing-masing untuk menerapkan kebijakan pelonggaran moneter.

Bank for International Settlements menunjukkan bahwa tingkat inflasi untuk bulan Juni 2017 berada di bawah 1% di 15 negara, serta negatif di Irlandia, Arab Saudi, Israel, dan Thailand. Bahkan, di India yang tumbuh cepat, inflasi berada pada level terendah delapan tahun di angka 1,5%. Dana Moneter Internasional atau IMF memperkirakan negara berkembang akan mengalami inflasi rata-rata 4,6% tahun ini.

Seperti dilansir Nikkei, telah memutuskan untuk mengurangi asetnya secara bertahap di bulan Oktober ini, didorong oleh lapangan kerja yang solid. Sementara, Bank of Japan juga sedang berjuang memacu inflasi di atas 0,5% dan telah berulang kali memotong perkiraan harganya, meski tingkat pengangguran ke level terendah dalam 20 tahun terakhir.

“Penjelasan untuk kombinasi ‘misterius’ pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang rendah adalah bahwa selain agregat yang lebih kuat, ekonomi industri telah mengalami guncangan pasokan positif,” papar Profesor New York University, Nouriel Roubini. “Globalisasi membuat barang dan murah mengalir dari China dan negara berkembang lainnya.”

Selain itu, rendahnya tingkat inflasi juga bisa disebabkan oleh harga minyak yang cenderung menurun akhir-akhir ini. Patokan minyak WTI AS telah melayang sekitar 50 dolar AS, melorot dari sekitar 100 dolar AS per barel di pertengahan 2014. Sebagai gambaran, tingkat inflasi Arab Saudi, salah satu penghasil minyak terbesar, sekitar 4% sampai Juni 2016, namun kemudian turun tajam pada bulan Januari lalu dan tetap negatif.

“Pertumbuhan upah yang lamban dan daya beli rumah tangga yang terbatas sepertinya juga semakin memburuk,” timpal Kepala Ekonom BIS, Claudio Borio. “Perusahaan kini mampu menahan upah atau memberi upah yang rendah di dalam negeri dengan menggeser produksi mereka ke luar negeri sebagai akibat arus globalisasi.”

Sebagai tambahan, karena pembagian hasil kerja di seluruh dunia, pekerjaan manual diambil alih oleh di Asia dan tempat lain. Hon Hai Precision Industry milik Taiwan, yang lebih dikenal dengan nama Foxconn, hanyalah salah satu contoh perusahaan yang melakukan otomatisasi lebih banyak produksinya, yang juga membuat harga tetap terjangkau.

Oversupply juga menjadi masalah. China dan negara-negara berkembang lainnya dengan cepat meningkatkan kapasitas produksi. Tetapi, tingkat pertumbuhan negara berkembang, yang sekitar 7-8% sebelum krisis global, turun menjadi sekitar 5%. Hal inilah yang membuat lebih sulit untuk menyerap semua output itu.

Sumber lain dari tekanan deflasi adalah ledakan sektor e-commerce. Kepala Investasi Global di BlackRock, Rick Rieder, memaparkan bahwa penyebaran ponsel pintar telah menekan harga, karena lebih banyak konsumen yang menemukan gadget cerdas ini dengan harga diskon di situs jual beli online daripada berbelanja di toko ‘sungguhan’.

Inflasi rendah memiliki manfaat bagi negara-negara berkembang. Mereka dulu telah punya banyak pilihan selain menaikkan suku bunga untuk menahan harga, bahkan ketika ekonomi mereka lamban. Sekarang, mereka memiliki lebih banyak pilihan, termasuk pemotongan suku bunga. Namun setelah bertahun-tahun pelonggaran moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jepang, AS, dan Eropa, inflasi yang rendah menciptakan tantangan yang kompleks, seperti kenaikan harga saham dan properti.

Loading...