FDI Indonesia Membaik, Rupiah Lanjut Menguat 20 Poin

rupiah-melemah.3

Rilis foreign direct investment (FDI) Indonesia yang membaik mampu mempertahankan laju pada awal Selasa (31/10) ini. Seperti dilaporkan Index, mata uang Garuda mengawali transaksi hari ini dengan 20 poin atau 0,15% ke level Rp13.562 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup 27 poin atau 0,20% di posisi Rp13.582 per AS pada Senin (30/10) kemarin.

“Rilis data foreign direct investment menjadi sentimen positif terhadap pergerakan mata uang Garuda,” ujar Analis Asia Tradepoint Futures, Andri Hardianto. “Data tersebut mencatat bahwa nilai penanaman modal asing di Indonesia naik 13% atau sebesar Rp111,7 triliun di kuartal III tahun 2017, atau lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang hanya mencapai 10,6%.”

Sebagian besar FDI pada kuartal ketiga adalah untuk logam, , elektronik, serta pertambangan. Seperti di kuartal kedua 2017, Singapura masih menjadi sumber investasi terbesar bagi Indonesia, disusul oleh Jepang dan China. Tencent Holdings dan JC.com Inc dari China misalnya, telah menginvestasikan ratusan juta dolar AS ke startup Go-Jek di Indonesia.

Di samping itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan diprediksi akan melaju lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya. Pertumbuhan dapat didorong peningkatan investasi pada tahun 2018, dan diproyeksikan tumbuh sebesar 5,4%, yang jika terealisasi, itu akan menjadi laju ekspansi tercepat dalam lima tahun terakhir.

Sebelumnya, pada perdagangan kemarin, rupiah mampu unggul atas greenback, seiring penguatan yang dialami mayoritas mata uang di Asia. Dolar AS tidak berdaya di Benua Kuning, salah satunya tertekan spekulasi bahwa Presiden Donald Trump kemungkinan akan menunjuk Jerome Powell sebagai Gubernur Federal Reserve yang baru untuk menggantikan Janet Yellen.

“Mata uang Asia bergerak lebih tinggi ketika dolar AS mengikis reli akhir-akhir ini, menyusul laporan bahwa Jerome Powell menjadi kandidat terdepan sebagai pemimpin Federal Reserve berikutnya,” kata Senior FX Strategist di Mizuho Bank, Ken Cheung. “Powell dinilai memiliki pandangan lebih dovish terkait kebijakan moneter dibandingkan dengan kandidat lainnya.”

Loading...