Ekspor Meningkat, Pemerintah Kawasan Asia Justru Khawatirkan Mata Uang

Ekspor Meningkat Pemerintah Kawasan Asia Justru Khawatirkan Mata Uang

Singapura – Pertumbuhan di kawasan tampaknya mencatatkan hasil yang cukup menggembirakan. Berdasarkan data dari NLI Research Institute, volume gabungan dari -negara seperti Singapura, Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Vietnam dilaporkan tumbuh 18,5% pada Juli 2017.

Sektor ekspor masih mendukung perekonomian dari berbagai negara di Asia. Pusat penelitian ekonomi Jepang telah merevisi proyeksi pertumbuhan riil tahun 2017 untuk negara China menjadi 6,7% dan 5,0% untuk negara Malaysia, Thailand, Filipina, dan Indonesia. Kenaikan angka ekspor ini ditunjang oleh perluasan ekspor barang-barang seperti komponen elektronik untuk smartphone.

Meski demikian, rupanya pertumbuhan ekspor justru menimbulkan kekhawatiran bagi dan , terutama berkaitan dengan menguatnya . Ketika perusahaan dibayar dalam dolar AS untuk ekspor mereka dan kemudian mengkonversikan uang tersebut ke dalam lokal, maka nilai tersebut akan meningkat. Perluasan asing juga menjadi alasan lain penyebab menguatnya nilai Asia.

Dari faktor global, The Fed secara bertahap menaikkan suku bunga acuannya, sedangkan ECB bersiap mengurangi pelonggaran moneter. Dalam kondisi demikian biasanya mata uang negara berkembang akan melemah terhadap dollar. Namun mengapa saat ini justru sebaliknya?

“Meskipun wajar bagi AS dan Eropa untuk memperketat kebijakan moneter seiring ekspansi ekonomi mereka, pelambatan pengetatan Fed lebih lambat dari perkiraan tidak berdampak pada mata uang negara-negara berkembang,” kata ekonom NLI Research Institute, Makoto Saito, seperti dilansir Nikkei.

Bagi perekonomian di Asia, menguatnya mata uang dapat membuat barang impor lebih murah dan membantu menstabilkan harga. Namun jika mata uang menjadi terlalu kuat terhadap dolar AS, maka kondisi itu dapat mengikis pendapatan eksportir dan menyebabkan anjloknya pertumbuhan ekonomi.

Cadangan juga menjadi salah satu tolak ukur untuk mengetahui tingkat kekhawatiran negara-negara di Asia. Cadangan meningkat saat sebuah negara menjual mata uangnya untuk membeli dolar, demikian pula sebaliknya. Walaupun bank sentral biasanya tak mengumumkan intervensi pasar yang dilakukan, namun peningkatan cadangan negara-negara besar di ASEAN dan India menunjukkan intervensi yang kerap dilakukan untuk membatasi apresiasi mata uang.

Bulan Agustus lalu Indonesia juga memutuskan memangkas suku bunga acuannya (BI 7-day Reverse Repo Rate) pertama kali sejak Oktober tahun 2016 lalu dari yang sebelumnya 4,5% menjadi 4,25%, dengan suku bunga Deposit Facility turun 25 basis poin menjadi 3,50%, dan Lending Facility turun 25 basis poin menjadi 5%. Keputusan (BI) tersebut berlaku efektif mulai 25 September 2017.

Loading...