Ekspor ke Jepang Meningkat, Populasi Belut di Indonesia Makin Mengkhawatirkan

Populasi belut di Indonesia akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan. Penangkapan belut secara berlebihan untuk kemudian diekspor ke serta metode perikanan yang masih terbelakang disebut sebagai faktor utama merosotnya jumlah belut di Tanah Air.

Seperti diketahui, meski Jepang cenderung memilih lokal, namun belut Indonesia dianggap memiliki kualitas yang lebih baik, di antaranya fillet yang tebal serta harga yang hanya sekitar setengah di bawah belut Jepang. Hal ini pun membuat fillet yang dimasak di Indonesia melonjak 103 ton pada tahun 2015 dari hanya 6,3 ton pada tahun 2012. Bahkan, pada enam bulan pertama 2016, tersebut sudah menyentuh angka 105 ton.

Meski potensi pertumbuhan belut di Indonesia cukup mengesankan, maksimal 300 ton per tahun, namun metode budidaya yang masih belum berkembang membuat produksi belut belum stabil dan berkualitas. “Kami masih belum mencapai produksi yang stabil dan berkualitas. Jadi, kami tidak siap untuk memasok ke jaringan toko kelontong besar dalam cara yang dapat diandalkan,” kata salah satu petani belut.

“Jadi, daripada menghabiskan banyak uang untuk mengekspor belut ke Jepang, perusahaan lokal mungkin lebih baik mendirikan restoran Jepang di Indonesia,” sambungnya. “Tentunya, dengan harga yang sama dengan yang ada di Jepang.”

Kendala lain untuk pertumbuhan belut adalah kurangnya sistem dan peraturan untuk memantau dan melindungi populasi belut muda, yang mengakibatkan penangkapan belut secara berlebihan. “Populasi belut di sejumlah memang cenderung menurun pada tingkat yang mengkhawatirkan,” ujar Direktur Manajemen Sumber Daya Perikanan di Kelautan dan Perikanan, Toni Ruchimat.

Ditambahkan Toni, ingin mendukung pertumbuhan . Tetapi di sisi lain, juga ingin memastikan bahwa penangkapan belut dilakukan dengan cara yang terkendali. “Kementerian akan merampungkan aturan tentang penangkapan belut pada tahun 2017 mendatang,” sambungnya.

Loading...