Ekosistem Startup Meluas, Unicorn Asia Tenggara Bujuk Ahli Lokal di AS untuk Pulang

Ojek Online - www.genmuda.comOjek Online - www.genmuda.com

JAKARTA/SAN FRANCISCO – Peningkatan pertumbuhan dalam layanan berbasis online serta e-commerce telah membantu menghasilkan setidaknya 14 unicorn selama beberapa tahun terakhir. Dengan unicorn dan ekosistem startup yang meluas, kebutuhan akan keterampilan, terutama bakat , juga tinggi. Karena itu, banyak perusahaan yang kemudian membujuk bakat-bakat lokal, terutama di Silicon Valley, untuk pulang ke rumah.

Dilansir Nikkei, didukung oleh basis pengguna yang berkembang dan energik, di Asia Tenggara mencapai titik tinggi pada tahun lalu ketika nilai dagangan bruto (ukuran ritel online) mencapai sekitar 72 miliar dolar AS, menurut sebuah studi bersama oleh Google dan Temasek dari Singapura. Angka itu mewakili 2,8% dari PDB dan internet berada di jalur untuk melebihi 240 miliar dolar AS atau 8% dari PDB pada tahun 2025.

“Dengan unicorn dan ekosistem startup secara keseluruhan meluas, demikian pula kebutuhan akan keterampilan, terutama bakat teknologi dan profesional lainnya,” tulis laporan itu. “Lebih dari 100.000 profesional terampil dipekerjakan dalam ekonomi internet Asia Tenggara tahun lalu. Angka itu diperkirakan akan berlipat ganda pada tahun 2025, karena lapangan kerja di sektor ini tumbuh lebih cepat daripada di seluruh perekonomian.”

Namun, mempekerjakan pekerja terampil tetap menjadi tantangan kritis. Sebuah survei yang melibatkan lebih dari 100 pemain kunci di kancah startup regional menunjukkan 90% responden percaya bahwa kesenjangan keterampilan adalah masalah utama. Penelitian oleh Monk’s Hill Ventures, dana modal ventura yang berbasis di Singapura dan Jakarta, dan Slush Singapore menunjukkan bahwa insinyur perangkat lunak adalah yang paling sulit ditemukan, diikuti oleh staf data-sains dan manajemen .

“Kurangnya pekerja akan menaikkan gaji. Profesional yang sangat terampil yang dipekerjakan oleh perusahaan internet di bidang-bidang seperti rekayasa perangkat lunak dan pemasaran digital seringkali mendapatkan gaji tiga hingga lima kali lebih tinggi daripada upah rata-rata di negara-negara Asia Tenggara,” sambung laporan Google/Temasek. “Kebutuhan bakat adalah hal utama dan ini adalah masalah bagi semua pemangku kepentingan ekosistem ASEAN.”

Go-Jek misalnya, sebuah startup besar yang berbasis di Jakarta. Perusahaan yang melayani panggilan ojek secara online ini meluncurkan ekspansi regional pada tahun lalu, mempekerjakan sekitar 500 insinyur perangkat lunak, tetapi butuh 500 orang lebih pada akhir tahun. Sementara, situs e-commerce Tokopedia dan Bukalapak, serta situs pemesanan perjalanan Traveloka, bersaing ketat untuk menarik talenta lokal dari sekolah teknik terbaik di negeri ini, seperti Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia.

Namun, bakat lokal seringkali tidak memiliki keterampilan perangkat lunak terbaru, sehingga Go-Jek dan perusahaan teknologi lainnya juga berburu di luar Nusantara. Go-Jek mencari ke India, lokasi mereka menjalankan pusat teknologi, serta Singapura, tempat perusahaan memiliki kantor ilmu data. Tetapi, mungkin rekrutmen yang paling dihargai adalah orang lokal yang berpengalaman di kancah teknologi tinggi Amerika.

Pendiri Go-Jek, Nadiem Makarim, memberi tahu para kru agar menyewa bakat dari Harvard Business School serta dari sekolah-sekolah top lainnya di AS. Menurut salah satu karyawan Go-Jek, orang-orang Go-Jek dari Harvard, MIT (Massachusetts Institute of Technology), atau Universitas Stanford diminta memberikan pidato di seminar sebagai bagian dari kampanye untuk membujuk orang-orang yang berpendidikan AS untuk bergabung dengan perusahaan.

Sementara, Bukalapak, unicorn termuda di Indonesia, telah meluncurkan kampanye yang disebut ‘Buka Jalan Pulang’ atau ‘Open the Way Home’ untuk membujuk orang Indonesia agar kembali. Mereka mengadakan acara di Silicon Valley pada bulan November yang menampilkan Yoel Sumitro, wakil presiden untuk desain produk, yang sempat belajar dan bekerja di Seattle sebelum pindah ke Jerman dan kemudian Singapura, tempat dia menjalankan tugas dengan perusahaan termasuk Adidas dan Uber.

Unicorn bukan satu-satunya yang berburu bakat-bakat ini. Perusahaan-perusahaan modal ventura yang dikembangkan sendiri juga menjelajahi AS untuk mencari ahli teknologi asal ASEAN dan kebanyakan berharap untuk menemukan pendiri startup potensial, dan kadang-kadang untuk membantu unicorn untuk merekrut.

“Kami dapat mendukung upaya mereka jika mereka berpikir untuk kembali ke Indonesia, apakah itu untuk bisnis tahap akhir seperti unicorn atau perusahaan konsultan seperti Bain, BCG (Boston Consulting Group), dan McKinsey, atau bahkan untuk bergabung dengan salah satu startup kami,” ujar Eddy Chan, mitra pendiri di Intudo, “Saya pikir, sampai batas tertentu, kami benar-benar bertindak seperti perusahaan SDM.”

Binh Tran, mitra umum di dana 500 Startups Vietnam yang berbasis di San Francisco, melakukan hal yang sama, tetapi dengan fokus pada Vietnam. Memang, tidak ada data pasti, tetapi Tran percaya bahwa Vietnam membentuk diaspora Asia Tenggara terbesar di Lembah Silikon, dengan banyak dari mereka bekerja untuk raksasa teknologi seperti Google dan Facebook. “Di masa lalu, sulit untuk membujuk orang-orang berbakat itu untuk pulang, tetapi sekarang semakin mudah,” katanya.

Asia Tenggara diperkirakan akan menghasilkan setidaknya 10 unicorn baru pada tahun 2024, menurut Bain & Co. Suvir Varma, penasihat senior di konsultan manajemen. Modal dan ketersediaan bakat adalah faktor kunci yang mendorong pertumbuhan. Bakat itu dapat mencakup veteran teknologi yang sukses dari seluruh dunia yang memilih Asia Tenggara untuk usaha berikutnya, serta generasi milenium yang sudah berada di kawasan yang bergerak ke kancah startup dengan hasrat dan tujuan.

Loading...