Ekonomi Global Mulai Pulih, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - www.republika.co.idRupiah - www.republika.co.id

JAKARTA – mampu menjaga posisi di teritori hijau pada Rabu (24/2) sore ketika tanda-tanda pemulihan mengatrol komoditas sekaligus meningkatkan minat untuk aset berisiko. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda ditutup menguat 7,5 poin atau 0,05% ke level Rp14.085 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB menetapkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.089 per dolar AS, menguat 0,4% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.126 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, hampir semua mata uang mampu mengungguli , meninggalkan yen Jepang dan peso Filipina di area merah.

Sebelumnya, ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memprediksi bahwa kinerja positif rupiah akan berlanjut pada perdagangan hari ini. Salah satu faktor pendukung mata uang Garuda adalah perkembangan stimulus fiskal AS senilai 1,9 triliun dolar AS yang akan ditentukan dalam pekan ini. Hal ini menurutnya akan mendorong membaiknya sentimen pada aset keuangan negara berkembang.

Dari , indeks dolar AS tergelincir menuju level terendah tiga tahun terhadap pound Inggris dan jatuh terhadap sebagian mata uang komoditas pada hari Rabu karena investor meningkatkan taruhan bahwa pemulihan ekonomi akan meningkatkan aset berisiko. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,107 poin atau 0,12% ke level 90,062 pada pukul 10.18 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell, menegaskan bahwa acuan akan tetap rendah dan bank sentral akan terus membeli obligasi untuk mendukung ekonomi AS, yang menurut banyak pedagang merupakan faktor negatif jangka panjang bagi greenback. Pada saat yang sama, lebih banyak uang mengalir ke mata uang yang diharapkan mendapat manfaat dari peningkatan perdagangan global dan ke negara-negara yang bangkit kembali dari pandemi virus corona.

“Tanda-tanda pemulihan ekonomi mengangkat harga komoditas, yang pada gilirannya mendukung mata uang eksportir komoditas,” kata ahli strategi valuta asing di IG Securities, Junichi Ishikawa. “Selera terhadap aset berisiko telah meningkat pesat, dan ini membuat dolar AS berada pada posisi yang sangat tidak menguntungkan.”

Loading...