Ekonomi Global Berkembang Pesat, Manufaktur Asia Tumbuh di November

Manufaktur Asia - shiftindonesia.comManufaktur Asia - shiftindonesia.com

HONG KONG – Peningkatan ekonomi di kedua sisi Pasifik ternyata mampu mengangkat dan meningkatkan di Asia. Menurut survei yang dilakukan oleh Nikkei, PMI (Purchasing Manager Index) di Benua Kuning selama bulan November 2017 kemarin mayoritas berada di atas angka 50, dengan tujuh dari 12 negara yang disurvei mencatatkan kenaikan tertinggi.

Taiwan memimpin PMI Asia dengan mencapai angka 56,3 pada bulan November 2017, sekaligus titik tertinggi negara tersebut sejak April 2011 silam. Peningkatan ini ditandai dengan dukungan pesanan baru yang kuat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang tumbuh paling cepat sejak September 2014 dan Juli 2014. Ini sekaligus mendorong sub-indeks output dan pekerjaan ke tingkat tertinggi dalam delapan bulan.

Menurut Julia Wang, ekonom China yang bekerja di HSBC, ini sesuai dengan kekuatan pesanan aktual, dengan permintaan smartphone atau ponsel cerdas mengalami rebound. Penjualan eceran smartphone secara global mencapai 383 juta unit pada kuartal ketiga kemarin, naik 3 persen dari tahun sebelumnya, menurut spesialis penelitian yang berbasis di AS, Gartner.

Lima vendor teratas, yaitu Samsung, Apple, Huawei, OPPO, dan Xiaomi, semuanya menggandeng produsen Taiwan seperti Hon Hai Precision Industry, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co., dan MediaTek sebagai pemasok. Penjualan produk buatan Apple juga naik 5,7 persen pada tahun ini selama tiga bulan hingga September menyusul peluncuran produk baru, sementara empat lainnya mencatat pertumbuhan dua digit.

Selain Taiwan, Jepang juga telah melihat sektor industrinya didukung oleh permintaan eksternal yang kuat. PMI Negeri Sakura di bulan kemarin melonjak sampai level tertinggi sejak Maret 2014, yaitu berada di angka 53,6. “Saya yakin bahwa pertumbuhan manufaktur di Jepang akan meningkat menjadi 2 persen dalam tiga bulan terakhir setiap tiga bulan, meski kenaikan upah yang lambat akan menyeret pertumbuhan PDB dari 1,4 persen tahun ini menjadi 1,2 persen pada 2018,” kata Kohei Iwahara, ekonom Natixis.

Di luar Asia bagian utara, Filipina mencatat pertumbuhan manufaktur terkuat, yaitu di angka 54,8. Saat pesanan baru naik ke titik tertinggi sejak Desember tahun lalu, produsen telah menambahkan lebih banyak staf dan meningkatkan pembelian untuk memenuhi permintaan. Bisnis tetap optimistis meski ada tekanan biaya dan supply chain yang lebih kuat, seperti yang ditunjukkan oleh pembacaan output 82,2 di masa depan.

“Dorongan ini tampaknya didorong oleh sektor elektronik, daripada penguatan rantai pasokan,” ujar Paul Gruenwald, kepala ekonom S & P Global untuk Asia Pasifik, dalam sebuah konferensi di awal Desember. “Dengan pertumbuhan ekonomi AS yang mendekati 3 persen, dan pertumbuhan Eropa yang mendekati 2 persen, saya pikir ekonomi terbuka yang lebih kecil di kawasan ini akan terus menguntungkan.”

Meski demikian, pemulihan perdagangan global bisa terganggu oleh meningkatnya proteksionisme. Beberapa negara, seperti AS, mulai meningkatkan jumlah ‘penghalang’ secara cepat, menurut Mahamoud Islam, ekonom senior perusahaan asuransi kredit berbasis di Paris Euler Hermes. AS telah memperkenalkan 87 langkah proteksi baru pada bulan November. Dua puluh persen langkah proteksionisme AS menargetkan China, dan 18 persen lainnya ditujukan ke Kanada.

Loading...