Efek FOMC Meeting Masih Terasa, Rupiah Menguat di Awal Pekan

Efek hasil meeting yang cenderung dovish dari harapan masih bertahan hingga saat ini, sehingga membuat laju indeks dolar cenderung melempem. Seperti dilaporkan Index, mata uang Garuda membuka sesi dagang hari ini dengan naik tipis 4 poin atau 0,03% ke level Rp13.341 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.36 WIB, spot kembali 8 poin atau 0,06% ke Rp13.337 per dolar AS.

“Efek hasil FOMC meeting yang lebih dovish dari harapan pasar masih bertahan hingga saat ini,” jelas Ekonom Samuel Sekuritas , Rangga Cipta. “Hal ini terlihat dari indeks dolar AS dan yield US Treasury yang masih turun hingga akhir pekan kemarin.”

Dari dalam negeri, ditambahkan Rangga, aliran dana asing ke aset berdenominasi terus meningkat, terlihat dari penurunan yield SUN serta kenaikan IHSG yang disertai dengan kenaikan proporsi kepemilikan asing. “ juga terbawa untuk menguat meski performanya terlihat masih kalah dibanding apresiasi kurs rekan dagang utama,” sambung Rangga.

“Fokus saat ini perlahan beralih ke situasi Pilkada DKI Jakarta putaran II dengan sentimen positif dari harapan kenaikan peringkat S&P yang masih kuat,” imbuh Rangga. “Karena itu, rupiah diperkirakan masih stabil dengan tendensi penguatan.”

Sementara itu, Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, menjelaskan bahwa Gubernur The Fed, Janet Yellen, memberikan sinyal sangat jelas untuk menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada tahun ini. Pernyataan Yellen menunjukkan peluang kenaikan suku bunga AS akan dilakukan secara perlahan. Sementara, data-data ekonomi AS menunjukkan hasil sesuai prediksi.

“Peluang kenaikan suku bunga The Fed tahun ini akan menjadi tantangan bagi pergerakan rupiah ke depan,” kata David. “Hari ini, mata uang Garuda masih berpotensi melanjutkan tren penguatan meski dalam rentang yang tipis.”

Loading...