Donasi Kim Kardashian untuk Armenia Fund, Perumit Konflik Nagorno-Karabakh

Konflik Nagorno-Karabakh - www.hetanews.comKonflik Nagorno-Karabakh - www.hetanews.com

NAGORNO/KARABAKH – Pesohor Hollywood, Kim Kardashian, baru-baru ini menghadapi reaksi keras karena dianggap ‘mendukung ’ setelah berjanji memberikan donasi 1 juta dolar AS untuk Armenia Fund, dan sebaliknya, justru terdiam atas serangan Armenia atas Azerbaijan yang telah memengaruhi sipil di zona non-. Meskipun tersebut memberikan bantuan kemanusiaan, terdapat spekulasi di antara orang Azerbaijan bahwa mereka memberikan bantuan untuk melakukan penyerangan terhadap sipil di Azerbaijan.

“Ketika seorang selebritas berpengaruh seperti Kim, yang memiliki 67 juta pengikut di Twitter, berbicara untuk satu sisi konflik, sambil mengabaikan yang lain, orang bertanya-tanya apakah pengaruh semacam itu menimbulkan ancaman terhadap objektivitas,” tutur Maedeh Sharifi, jurnalis penyiaran yang berbasis di London, seperti dilansir TRT World. “Dan pengungkapan kebenaran dalam situasi perang yang genting atau konflik perbatasan yang intens,”

John Street, seorang profesor di University of East Anglia dan seorang peneliti media dan budaya, mengatakan bahwa ‘selebriti dapat memihak’ karena mereka ‘bukan jurnalis yang diharapkan seimbang dan/atau tidak memihak ‘. Namun, dalam pandangan komunikasi , Street mengatakan para selebriti ‘perlu berhati-hati’. “Selebriti tidak bertanggung jawab dan mereka tidak diwajibkan untuk memeriksa bukti. Kita harus selalu waspada terhadap mereka dan influencer lain yang tidak terikat oleh proses yang membantu memvalidasi informasi,” terang Street.

Kampanye Kim berupaya untuk menggambarkan Armenia sebagai korban agresi Azerbaijan, sebuah pendirian yang lebih didasarkan pada bias emosional sehubungan dengan keturunan Armenia-nya. Armenia Fund yang dia dukung, telah dicurigai berdasarkan kebetulan bahwa tak lama setelah dana terkumpul, Armenia menyerang kawasan pemukiman di Ganja, kota terbesar kedua di Azerbaijan, menewaskan sedikitnya 13 orang, termasuk tiga anak, dan melukai 52 lainnya.

Secara historis, konflik Nagorno-Karabakh sendiri sangat kompleks, berlangsung selama lebih dari tiga dekade, dan kedua belah pihak menghadapi akibat dari warisan sejarah. Warga sipil di kedua sisi sejak itu terikat dengan konsekuensinya, dan dialog terbuka dengan masa lalu tampaknya hilang di antara para selebriti.

Pembubaran Kekaisaran Ottoman membuat Armenia dan Azerbaijan sebagai negara yang baru merdeka, keduanya mengklaim kepemilikan yang sah atas Nagorno-Karabakh. Akibatnya, perang singkat pada tahun 1920 muncul. Beberapa tahun kemudian, Uni Soviet menaungi Armenia dan Azerbaijan di bawah blok. Pada tahun 1923, Oblast Otonomi Nagorno-Karabakh dibentuk oleh Uni Soviet di dalam wilayah Azerbaijan Soviet.

Ketika Uni Soviet runtuh, ketegangan masa lalu atas wilayah yang disengketakan kembali bangkit. Pada akhir 1980-an, kekerasan muncul antara Armenia dan Azerbaijan meskipun tidak ada pernyataan resmi tentang perang. Lalu, pada tanggal 2 September 1991, referendum yang didukung oleh Armenia, dan dibuat oleh Armenia Karabakh, mendeklarasikan ‘kemerdekaan’ wilayah Nagorno-Karabakh. Komposisi pemilih adalah 99 persen orang Armenia, dan Republik Nagorno-Karabakh hanya diakui oleh Armenia.

Setahun kemudian, perang nyata terjadi. Pada malam Februari 1992, Khojaly, sebuah desa di wilayah Nagorno-Karabakh, diduduki oleh pasukan Armenia. Akibat pendudukan Armenia, 613 dari 8.000 warga Azerbaijan di desa tersebut menghadapi penyiksaan, pemerkosaan, dan eksekusi. Sebagian besar korban adalah perempuan, anak-anak, dan laki-laki tua. Peristiwa di Khojaly hingga saat ini dianggap sebagai tragedi nasional Azerbaijan.

Pada musim semi tahun berikutnya, pasukan Armenia juga menduduki Fizuli dan Kelbajar, wilayah yang terletak di luar Karabakh, dengan mayoritas penduduknya adalah Azerbaijan dan Azerbaijan-Kurdi. Pertempuran itu telah merenggut 30.000 nyawa dan menelantarkan 1,1 juta orang, 800.000 di antaranya adalah orang Azerbaijan dan 7.000 orang Armenia. Pada tahun 1994, gencatan senjata ditandatangani tetapi gagal karena bentrokan terus berlanjut.

Awal bulan ini, gencatan senjata lain ditandatangani sebagai tanggapan atas pertempuran September, tetapi dilanggar oleh Armenia. Berbagai Resolusi PBB (termasuk 822, 853, 874, dan 884) terus-menerus menuntut penarikan pasukan Armenia tanpa syarat dan segera dari wilayah pendudukan, tetapi tidak berpengaruh. Di mata , Nagorno-Karabakh diakui secara sebagai bagian dari Azerbaijan, dan kampanye untuk membebaskan daerah itu terus diupayakan oleh Azerbaijan.

Loading...