Dolar Tertekan Data Perdagangan China, Rupiah Berpeluang Rebound

Usai dalam beberapa hari terakhir, diramal bakal mampu rebound pada perdagangan tengah pekan ini. Melemahnya indeks dolar AS karena para pelaku berpaling ke seiring perdagangan China yang mencatatkan membuka peluang bagi mata uang Garuda untuk kembali bergerak ke zona hijau.

Seperti diwartakan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan hari ini (10/8) dengan penguatan sebesar 17 poin atau 0,13% di level Rp13.110 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.14 WIB, spot kembali menguat 15 poin atau 0,11% ke posisi Rp13.112 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau dibuka melemah 0,059 poin atau 0,06% ke level 96,124.

“Perdagangan China mencatatkan surplus 52,3 miliar dolar AS atau berada di atas ekspektasi,” ujar Kepala Riset NH Securities Indonesia, . “Kondisi tersebut dimanfaatkan para pelaku pasar untuk berpaling ke yuan sehingga membuat laju dolar AS cenderung tertekan.”

Namun, ditambahkan Reza, penguatan rupiah hari ini cenderung terbatas seiring dengan antisipasi pelaku pasar terhadap rilis penjualan ritel yang diperkirakan tumbuh melambat. “Rupiah kemungkinan bergerak di kisaran support Rp13.129 per dolar AS dan resisten Rp13.093 per dolar AS,” sambung Reza.

Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, mengatakan bahwa indeks dolar AS yang mulai turun menandakan bahwa ekonomi AS belum begitu solid untuk mendukung kenaikan The Fed dalam waktu dekat. “Usai euforia pertumbuhan kuartal II 2016 yang baik, PMK mengenai dana repatriasi di instrumen non-keuangan yang baru diterbitkan diperkirakan kembali mengangkat optimisme,” katanya.

“Karena itu, rupiah berpeluang menguat pada hari ini,” lanjut Rangga. “Namun, rencana pemangkasan anggaran serta realisasi tax amnesty yang belum memuaskan dapat menjaga sentimen negatif.”

Loading...