Dolar Stabil, Rupiah Berbalik Melemah Jelang Libur May Day

Rupiah - beritacenter.comRupiah - beritacenter.com

Bergerak meyakinkan pada awal , rupiah ternyata harus berbalik melemah ketika menutup Senin (30/4) ini, menjelang libur May Day. Menurut Index pukul 15.59 WIB, Garuda menyelesaikan transaksi dengan pelemahan sebesar 20 poin atau 0,14% ke level Rp13.913 per .

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup melemah tipis 2 poin atau 0,01% di posisi Rp13.893 per dolar AS pada akhir pekan (27/4) kemarin. Pagi tadi, mata uang NKRI sempat bangkit dengan dibuka menguat 19 poin atau 0,14% ke level Rp13.874 per dolar AS. Sayangnya, spot gagal mempertahankan tren positif hingga tutup dagang.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.877 per dolar AS, mengalami apresiasi sebesar 2 poin atau 0,01% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.879 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak mixed terhadap greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,89% dialami won Korea Selatan dan pelemahan terdalam sebesar 0,08% menghampiri yen Jepang.

Dari pasar global, indeks dolar AS terpantau bergerak stabil terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Senin, setelah sempat tergelincir dari level tertinggi tiga setengah bulan, tertekan oleh penurunan imbal hasil AS. Mata uang Paman Sam menguat tipis 0,014 poin atau 0,02% ke level 91,556 pada pukul 11.10 WIB, setelah berakhir melandai 0,019 poin atau 0,02% di posisi 91,542.

Seperti dikutip dari Reuters, indeks dolar AS telah naik lebih dari 1,3% pada pekan lalu, kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari dua bulan, disokong imbal hasil obligasi AS yang menguat di atas 0,3%. Namun, setelah sempat menyentuh level 3,035% pada Rabu (25/4), pergerakan imbal hasil tenor 10 tahun kemudian merosot menjadi 2,957% pada Jumat kemarin.

Saat ini, fokus pasar mulai beralih para rapat Federal Open Market Committee () tanggal 1-2 Mei waktu setempat, yang diprediksi masih akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan dan baru akan mengerek Fed Fund Rate pada bulan Juni mendatang. Di samping itu, rilis data pekerjaan (nonfarm ) AS pada akhir pekan mendatang juga mendapat sorotan.

“Angka nonfarm payroll AS minggu ini akan sangat membantu untuk memperkuat tren jangka pendek greenback,” ujar kepala perdagangan di Asia-Pasifik untuk OANDA di Singapura, Stephen Innes, dalam sebuah catatan. “Sementara, di sisi FOMC, seharusnya berjalan relatif lancar, layaknya sebagian pertemuan konferensi non-press.”

Loading...