Dolar ‘Merayap’ di Level Terendah, Rupiah Berakhir Positif

rupiah menguat

Pergerakan yang masih tertatih-tatih di level terendah membuat mampu melenggang mulus sepanjang awal pekan (17/7) ini. Menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, Garuda berhasil memungkasi dengan penguatan sebesar 13 poin atau 0,10% ke level Rp13.326 per dolar .

Grafik positif rupiah sudah berlangsung sejak awal dagang dengan dibuka naik 31 poin atau 0,23% ke posisi Rp13.308 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali menguat 24 poin atau 0,18% ke level Rp13.315 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.37 WIB, spot masih bertahan di zona hijau setelah mengalami apresiasi sebesar 14 poin atau 0,10% ke posisi Rp13.325 per dolar AS.

Dari global, indeks dolar AS sebenarnya mampu bangkit dari zona merah, meski terlihat masih ‘merayap’ di kisaran level terendah dalam 10 bulan. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama naik 0,005 poin atau 0,01% ke level 95,158 pada pukul 10.30 WIB, setelah dibuka melemah 0,055 poin atau 0,06% ke posisi 95,098.

Sebelumnya, indeks dolar AS terjerembab ke level terendah dalam 10 bulan terakhir akibat tingkat dan penjualan retail Paman Sam yang mengalami penurunan. Tingkat AS periode Juni 2017 dilaporkan stagnan di posisi 0%, lebih rendah dari estimasi konsensus sebesar 0,1%. Sementara, data penjualan retail merosot menjadi -0.2% dari bulan sebelumnya di angka -0,1%.

Namun, konsumen pasar mendapat sedikit dorongan setelah data ekonomi China menunjukkan produk domestik bruto negara tersebut naik 6,9% pada kuartal kedua tahun ini, sekaligus melampaui prediksi dengan mudah. Kekuatan dalam penjualan retail dan output industri membantu mengimbangi awal yang lemah bagi saham Shanghai yang mungkin terkait dengan peraturan perdagangan yang ketat.

“Hal ini juga mendorong pertumbuhan global karena China merupakan negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia,” papar Kepala Ekonom di CommSec, Craig James, seperti diberitakan Reuters. “Berdasarkan data ini, tidak perlu ada langkah pelonggaran dan pengetatan karena tekanan inflasi sangat terkendali. Jadi, saya pikir bank sentral hanya akan terus berjaga-jaga.”

Sementara itu, siang tadi mematok kurs tengah berada di level Rp13.313 per dolar AS, melonjak 34 poin atau 0,25% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.347 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus greenback, dengan penguatan tertinggi dialami won Korea Selatan sebesar 0,45% dan dolar Singapura sebesar 0,15%.