Dolar Makin Perkasa Jelang Rilis Data Inflasi, Rupiah Anjlok 15 Poin di Pembukaan

rupiah.4

Jakarta mengawali hari ini, Rabu (13/9) dengan pelemahan sebesar 15 poin atau 0,11 persen ke level Rp 13.215 per AS. Kemarin, Selasa (12/9) rupiah berakhir terdepresiasi 0,22 persen atau 29 poin ke posisi Rp 13.156 per AS setelah diperdagangkan di rentang angka Rp 13.176 hingga Rp 13.225 per AS.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat pada perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB lantaran para tengah menanti rilis Amerika Serikat yang dapat menjadi penentu kapan Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan acuannya.

Di samping itu investor juga tengah fokus ke Indeks (IHK) yang akan dilaporkan pada hari Kamis (14/9) besok. Data tersebut juga menjadi patokan terkait keputusan para pejabat The Fed terkait kebijakan moneter di AS.

Ekspektasi mengenai pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat kini telah mereda. Berdasarkan alat FedWatch CME Group, ekspektasi pasar terkait kenaikan suku bung acuan The Fed pada Desember 2017 kini hanya berada di angka 41,1 persen.

Pada Selasa (12/9) kemarin, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa jumlah lowongan pekerjaan berubah pada angka 6,2 juta pada hari kerja terakhir Juli 2017. Selama periode Juli 2017 jumlah perekrutan dan pemutusan hubungan kerja (PHK) pegawai juga mengalami perubahan masing-masing sebesar 5,5 juta dan 5,3 juta.

Berdasarkan data tersebut, dalam pengurangan karyawan, tingkat karyawan yang meninggalkan pekerjaan secara sukarela, serta tingkat PHK berubah menjadi 2,2 persen dan 1,2 persen. Menurut analis, data-data tersebut menunjukkan bahwa para pengusaha tengah kesulitan mendapatkan pelamar dengan keterampilan yang tepat.

Menurut Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Rully Arya Wisnusubroto, kabar mengenai batalnya Korea Utara melakukan uji coba nuklir dan ditetapkannya sanksi ekonomi pada Korut oleh PBB membuat dollar berbalik menguat. “Efek badai Irma juga tidak terlalu signifikan terhadap kondisi ekonomi AS,” kata Rully, seperti dilansir Kontan.

Senada, Research & Analyst Monex Investindo, Putu Agus Pransuamitra menuturkan jika kondisi politik kini mulai mereda. “Suhu politik yang mereda membuat dollar yang tertekan pekan lalu kini bangkit,” tuturnya. Sementara itu, pergerakan rupiah dinilai masih akan terpengaruh oleh sentimen dari luar negeri.

Loading...